Nasional

Guru Besar ITB: Waspadai Potensi Gempa Besar di Barat Flores

Bagikan:
Peta lokasi Flores dan wilayah barat yang berisiko gempa menurut riset ITB

Profesor Irwan Meilano dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB memperingatkan masyarakat Nusa Tenggara Timur agar mewaspadai potensi gempa besar di wilayah barat Pulau Flores. Pernyataan ini disampaikan saat perbincangan dengan RRI Pro 3 pada 16 Agustus 2026, berdasarkan riset yang dimulai sejak 2016 dan dipublikasikan pada 2022 tentang yang disebut Flores Back Thrust, di mana data Global Positioning System (GPS) menunjukkan akumulasi regangan tektonik.

Temuan riset: Flores Back Thrust dan akumulasi regangan

Irwan menjelaskan penelitian sejak 2016 menemukan indikasi akumulasi regangan di utara NTT. Kondisi kegempaan yang relatif rendah di wilayah itu justru menjadi tanda adanya energi yang terakumulasi dan perlu diwaspadai.

“Potensi gempa ini disebut sebagai Flores Back Thrust. Ada bukti akumulasi regangan tektonik berdasarkan data global positioning system (GPS).”

Perbandingan dengan gempa Flores 1992 dan gempa 15 Agustus 2026

Menurut Irwan, gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 memiliki karakteristik mekanisme dan magnitudo yang mirip dengan gempa Flores 1992. Ia menyebut magnitudo tidak jauh berbeda, namun perbedaan penting adalah tidak terjadi longsoran bawah laut pada peristiwa terbaru sehingga dampak tsunami berbeda.

“Gempa yang kemarin sangat mirip dengan gempa Flores dalam konteks mekanismenya. Magnitude-nya pun tidak jauh beda, Flores 7,9, ini (Gempa NTT) 7,7.”

Irwan menilai pengulangan gempa serupa tahun 1992 masih mungkin, meski probabilitasnya lebih kecil. Namun ia menekankan adanya potensi sumber gempa lain di sebelah barat sumber gempa yang baru terjadi.

Kerentanan infrastruktur dan rekomendasi kebijakan

Profesor Irwan menyoroti kerentanan sejumlah fasilitas di NTT terhadap guncangan kuat. Fasilitas kesehatan, pendidikan, kantor pemerintahan, serta rumah tinggal perlu diperkuat agar tahan gempa.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas perencanaan berbasis potensi bencana dan menerapkan kebijakan bangunan tahan gempa pada fasilitas strategis seperti sekolah dan puskesmas.

  • Perkuat standar bangunan pada fasilitas publik.
  • Integrasikan peta risiko gempa dalam perencanaan tata ruang.
  • Latihan evakuasi dan pendidikan mitigasi bencana di komunitas.

Imbauan untuk masyarakat

Irwan meminta masyarakat tidak panik tetapi tetap waspada. Ia menekankan bahwa waktu terjadinya gempa tidak bisa ditebak dari jarak ke gempa sebelumnya, melainkan dari akumulasi energi tektonik.

“Pilihan terbaik dari masyarakat yaitu tidak panik tetapi kemudian tidak mengurangi kewaspadaan. Jangan sampai ada keyakinan berlebihan bahwa tidak mungkin terjadi, karena probabilitas rendah masih mungkin terjadi.”

Langkah praktis yang direkomendasikan adalah memperkuat kesiapsiagaan keluarga, mengetahui jalur evakuasi, dan memastikan fasilitas penting memiliki standar bangunan tahan gempa.

Pengingat ancaman potensi gempa di barat Flores, langkah mitigasi dan perencanaan yang lebih serius dari pemerintah serta pendidikan kesiapsiagaan di masyarakat menjadi kunci mengurangi risiko bencana ke depan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait