Nasional

Menperin: Industrialisasi Diperkuat demi Kemandirian Ekonomi

Bagikan:
Menteri Perindustrian berbicara tentang penguatan industrialisasi dan kemandirian ekonomi

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan pemerintah memperkuat industrialisasi nasional untuk meningkatkan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkokoh kemandirian ekonomi.

Arah kebijakan usai pidato presiden

Pernyataan itu disampaikan Menperin menanggapi arahan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI 2026. Presiden menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Bapak Presiden menegaskan bahwa pertumbuhan dan investasi bukanlah tujuan akhir, tetapi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat," ujarnya, Minggu 16 Agustus 2026. "Setiap investasi harus mampu menciptakan pekerjaan dan setiap kebijakan harus memperbaiki kehidupan masyarakat."

Agus menyatakan bahwa pesan presiden menguatkan posisi manufaktur sebagai tulang punggung perekonomian. Industrialisasi, menurutnya, harus inklusif, kompetitif, dan mampu menghasilkan nilai tambah sebesar-besarnya di dalam negeri.

Kurangi ketergantungan impor dan perkuat rantai pasok

Menperin menilai kondisi global yang tidak pasti menuntut pengurangan ketergantungan pada negara lain untuk komoditas strategis. Oleh karena itu, pembangunan struktur industri harus terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk memperdalam penguasaan teknologi dan memperkuat rantai pasok domestik.

"Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kita tidak boleh terlalu bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan strategis nasional," ujarnya. "Karena itu, kita harus membangun struktur industri yang semakin dalam dan terintegrasi dari hulu sampai hilir."

Penguatan industri juga difokuskan pada kemampuan mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi. Langkah ini dianggap krusial untuk memperkuat struktur industri dan menurunkan ketergantungan impor.

Data kinerja industri dan indikator optimisme

Berdasarkan Badan Pusat Statistik, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Angka ini sedikit melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Sektor pengolahan menyumbang 18,50 persen terhadap produk domestik bruto dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 0,90 persen. Menperin memandang capaian itu sebagai bukti kebijakan yang berpihak pada industri efektif.

"Capaian ini menunjukkan bahwa kebijakan Presiden yang memberikan keberpihakan kuat terhadap sektor industri telah menghasilkan dampak yang konkret," kata Menperin. "Manufaktur bukan hanya tumbuh, tetapi pertumbuhannya mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional."

Indikator lain juga menunjukkan kondisi ekspansif pada Juli 2026. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur berada di level 52,31, PMI Manufaktur 50,2, dan Indeks Kepercayaan Industri 53,10.

Strategi Kementerian dan multiplier effect

Kementerian Perindustrian menerjemahkan arahan presiden ke dalam Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN). Program ini meliputi percepatan hilirisasi, peningkatan produktivitas dan daya saing, perluasan pasar, serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.

“Industrialisasi harus menghasilkan multiplier effect yang luas," ujarnya. "Ketika sebuah industri tumbuh, yang berkembang bukan hanya pabriknya,."

Agus menegaskan bahwa industrialisasi tidak cukup menaikkan angka pertumbuhan. Perkembangan industri harus memberi manfaat pada tenaga kerja, pemasok bahan baku, IKM, logistik, teknologi, dan ekspor.

Dengan data kinerja positif dan strategi yang terarah, pemerintah berharap industrialisasi dapat mendorong kemandirian ekonomi jangka panjang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait