USK Perkuat Posyandu Lansia Rumpet dengan Pelatihan dan Alat Medis
Aceh Besar — Tim Pengabdian Kemitraan Masyarakat (PKM) lintas fakultas Universitas Syiah Kuala (USK) memberikan pelatihan teknis pemeriksaan kesehatan dasar dan menyerahkan perangkat medis lengkap kepada Posyandu Lansia Gampong Rumpet, Kamis (9/7). Kegiatan ini bertujuan memperkuat ekosistem desa ramah lansia melalui peningkatan kemampuan kader kesehatan desa.
Pelatihan dan keterampilan klinis
Pelatihan berlangsung interaktif di Posyandu Lansia Gampong Rumpet. Kegiatan ini merupakan fase ketiga program "Pemberdayaan Kader melalui Penguatan Community-Based Support System untuk Mewujudkan Lansia Mandiri", didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek 2026.
Jika fase sebelumnya fokus pada pendampingan psikososial dan manajemen obat, kali ini kader dilatih aspek klinis dasar. Materi meliputi penggunaan tensimeter digital, pengukuran gula darah, kolesterol, dan asam urat dengan metode point-of-care testing, serta pemantauan antropometri untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT).
Dukungan tim ahli
Sesi praktek dipandu oleh pakar keperawatan gerontik Ns. Dara Febriana dan pakar farmasi apt. Rena Meutia. Tim juga melibatkan dosen Fakultas Keperawatan USK, Ns. Nurul Hadi, M.Kep., dan Ns. Khairani, MPH., serta mahasiswa yang mendampingi praktik lapangan.
"Kader yang terampil adalah penyelamat pertama di tingkat desa. Semakin cepat gejala hipertensi, diabetes, atau gangguan nutrisi pada lansia terdeteksi melalui pemeriksaan berkala ini, semakin cepat penanganan medis dapat diberikan sebelum terjadi komplikasi fatal," ujar Ns. Zulkarnaini, Ketua Tim Pengabdian USK.
Alat medis dan kelangsungan pemantauan
Untuk memastikan keberlanjutan, Tim PKM menyerahkan satu paket lengkap instrumen pemeriksaan kesehatan dasar lansia kepada pengurus Posyandu Lansia Gampong Rumpet. Paket ini dirancang agar pemantauan dapat dilakukan secara mandiri di tingkat desa.
- Alat cek darah berkala (GCU)
- Tensimeter digital
- Perangkat antropometri standar layanan kesehatan
Dengan ketersediaan alat ini, pemantauan kebugaran warga senior diperkirakan dapat berjalan konsisten setiap bulan, bahkan setelah rangkaian pengabdian USK selesai pada akhir 2026.
Dampak dan prospek
Intervensi ini memperkuat peran kader sebagai garis depan deteksi dini masalah kesehatan lansia di desa. Selain menurunkan risiko komplikasi, pendekatan ini juga membuka peluang rujukan lebih cepat ke fasilitas kesehatan bila ditemukan indikasi serius.
Ke depan, keberhasilan program akan bergantung pada pemeliharaan alat, pelatihan lanjutan, dan dukungan berkelanjutan dari pemangku kepentingan setempat agar model desa ramah lansia ini dapat direplikasi di wilayah lain.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Medan Terapkan QRESTO untuk Perketat Pengawasan Pajak Restoran
Pemko Medan luncurkan QRESTO untuk memantau transaksi restoran dan menutup kebocoran pajak; akademisi minta...
DDII Kota Langsa 2026-2031 Dilantik, Fokus Dakwah di Era Digital
DDII Kota Langsa periode 2026-2031 dilantik; pengurus baru fokus dakwah digital dan mendukung program Langsa...
Kapolres Langsa Pastikan Sumur Bor Bhayangkari Berfungsi untuk Santri
Kapolres Langsa AKBP Hyrowo SIK meninjau sumur bor bantuan Bhayangkari di tiga dayah Kota Langsa pada 26/8 u...
Warga Langsa Protes Jalan Rusak Akibat Proyek Tanggul
Warga Langsa keluhkan Jalan Lorong Kuburan China rusak parah akibat truk proyek tanggul APBA 2026, minta per...
Aceh Besar Perkuat Pelayanan Kesehatan Primer lewat Kolaborasi
Wabup Aceh Besar mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pelayanan kesehatan primer dan komunita...
Pembinaan Pemuda Batubara: Bupati Ajak Manfaatkan Peluang
Bupati Batubara mengajak generasi muda memanfaatkan peluang, meningkatkan keterampilan, dan menjauhi narkoba...