PKBTS: AI Jangan Gantikan Pendidikan Karakter
Pengurus Pusat Perkumpulan Keluarga Besar Taman Siswa (PP PKBTS) mengingatkan agar pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan tidak menggantikan pendidikan karakter siswa. Peringatan itu disampaikan dalam perbincangan bersama Pro3 RRI pada Senin, 29 Juni 2026, terkait risiko ketergantungan peserta didik pada teknologi tanpa pendampingan yang tepat.
Risiko ketergantungan dan dampak pada kemandirian berpikir
PP PKBTS menilai penggunaan AI berpotensi mengurangi kemampuan berpikir mandiri jika tidak diimbangi pendidikan budi pekerti. Organisasi menekankan AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan rujukan utama dalam proses belajar.
"Kalau tidak dibarengi dengan pendidikan budi pekerti, AI akan berbahaya bagi kehidupan masyarakat, khususnya para pelajar. Anak-anak bisa menjadi bergantung pada AI dalam menjawab berbagai persoalan yang mereka hadapi,"
Penerapan ajaran Ki Hajar Dewantara
Ketua Umum PP PKBTS, Muhammad Munawaroh, mengingatkan relevansi konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara melalui sistem Among. Menurut Munawaroh, pendekatan yang manusiawi dan mendorong perkembangan sesuai potensi anak perlu dipertahankan di era digital.
"AI tidak bisa kita tolak karena merupakan bagian dari perkembangan teknologi. Tetapi AI jangan dijadikan referensi utama, melainkan hanya sebagai sarana untuk mempermudah proses pembelajaran,"
Strategi Kongres PKBTS ke-20
Isu AI dan pendidikan karakter menjadi perhatian dalam Kongres PKBTS ke-20. Kongres mengusung tema Bergerak Bersama Menuju Pendidikan Kebangsaan yang Lebih Baik dengan Menerapkan Panca Dharma Taman Siswa, serta merancang program untuk menyebarluaskan ajaran Ki Hajar Dewantara kepada publik.
Langkah konkret yang disiapkan meliputi pemanfaatan media digital dan pengembangan materi ajar. PKBTS menyebutkan beberapa platform yang akan dimanfaatkan agar nilai pendidikan lebih mudah diterima generasi muda:
- TikTok
- YouTube
- Podcast
Selain itu, organisasi akan mengembangkan film pendidikan dan menyelenggarakan pelatihan Kader Guru Bangsa untuk meningkatkan pemahaman pendidik terhadap ajaran Taman Siswa.
Peran keluarga dan masyarakat
Munawaroh menegaskan keberhasilan pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah. Ia menyatakan penguatan pendidikan karakter harus melibatkan keluarga dan masyarakat agar tercipta generasi yang cakap akademik dan berakhlak.
"Pendidikan itu berlangsung di tiga tempat, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu, semua pihak memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak,"
Dengan demikian, PKBTS mengajak agar teknologi diposisikan sebagai pendukung proses pendidikan, sementara pembentukan karakter tetap menjadi prioritas bersama.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Misi Swift Boost Diluncurkan 30 Juni 2026 dari Kwajalein
Misi LINK diluncurkan 30 Juni 2026 dari Kwajalein untuk menaikkan orbit Observatorium Swift dan mencegah ree...
NASA Pangkas Program Artemis, Kontrak Rp96 Triliun Dibatalkan
NASA membatalkan kontrak Artemis senilai USD5,9 miliar (Rp96 triliun) setelah audit menemukan biaya membengk...
NASA Uji Cryocoupler untuk Pengisian Bahan Bakar di Orbit
NASA menguji cryocoupler untuk pengisian bahan bakar kriogenik di orbit, bertujuan transfer otomatis tanpa s...
Menkeu: APBN Diperkuat untuk Riset dan Industrialisasi Nasional
Menkeu Purbaya umumkan APBN difokuskan mendukung riset, teknologi, dan beasiswa STEM mulai 2026 untuk percep...
Beasiswa Djarum Dorong Mahasiswa Ciptakan Solusi Sosial
Bakti Pendidikan Djarum mendorong mahasiswa ciptakan solusi sosial lewat pemikiran kritis pada Final Nasiona...
Bahlil Ajak Kampus Percepat Riset Energi untuk Ketahanan Nasional
Menteri ESDM Bahlil ajak kampus percepat riset energi untuk dukung ketahanan, hilirisasi, dan substitusi CNG...