Lokal

Ekonomi Sumut Tumbuh 4,98% pada Triwulan I 2026

Bagikan:
Grafik pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara dan aktivitas pasar lokal

Medan — Perekonomian Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tumbuh 4,98 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Data yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut menunjukkan aktivitas ekonomi daerah tetap positif meski ada ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah.

Pertumbuhan dan faktor penopang

Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan struktur ekonomi daerah yang masih kuat pada sektor pertanian dan perkebunan menjadi penyangga utama pertumbuhan. Hal ini membantu menjaga performa ekonomi meski kondisi internasional bergejolak.

"Ini menunjukkan bahwa ekonomi Sumut tetap resilien di situasi sekarang, yang berkecamuk perang global terutama di Timur Tengah," kata Asim saat konferensi pers di Kantor Gubernur Sumut, Selasa (9/6/2026).

Dampak konflik global dan kinerja ekspor

Asim menjelaskan konflik global memberi dampak pada pola perdagangan dan permintaan ekspor. Ekspor Sumut banyak mengarah ke pasar Amerika Serikat dan Tiongkok, terutama untuk komoditas lemak serta minyak hewani dan nabati.

Namun, ada pula aspek yang menguntungkan. Kenaikan harga crude palm oil (CPO) di pasar internasional dan pelemahan nilai tukar rupiah turut mendongkrak penerimaan ekspor daerah.

Konsumsi rumah tangga dan peran event besar

Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan. Lebih dari 51 persen kontribusi pertumbuhan ekonomi daerah bersumber dari belanja masyarakat, yang menandakan daya beli relatif terjaga.

Asim juga menilai penyelenggaraan agenda nasional dan internasional di Sumut mendorong perputaran ekonomi lokal. Beberapa kegiatan yang disebut memberi dampak positif antara lain:

  • Piala AFF U-19 2026
  • Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)
  • Trail of The King by UTM 2026
  • Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU)
  • serta berbagai event pendukung lainnya

"Banyaknya tamu yang datang, akan membuka usaha-usaha dan pekerjaan baru. Seperti Trail of The King, Piala AFF," ujar Asim.

Inflasi Mei 2026 dan langkah pengendalian

Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, melaporkan inflasi Sumut pada Mei 2026 tercatat 4,35 persen (yoy), naik dari 2,92 persen pada periode sebelumnya.

Komoditas yang paling menyumbang inflasi yakni:

  • Emas perhiasan: 0,57 persen
  • Tomat: 0,29 persen
  • Beras: 0,24 persen
  • Cabai merah: 0,18 persen
  • Ikan dencis: 0,16 persen

Data IHK juga menunjukkan variasi antarkota: inflasi tertinggi tercatat di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen dan terendah di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen.

"Ini menjadi catatan kita bersama. Tadi kita sudah sidak ke pasar yang menjadi titik barometer," kata Poppy.

Untuk menjaga stabilitas harga, Pemprov Sumut menetapkan roadmap pengendalian inflasi melalui strategi 4K:

  • Keterjangkauan Harga
  • Ketersediaan Pasokan
  • Kelancaran Distribusi
  • Komunikasi Efektif

Poppy menambahkan pemerintah daerah juga menjalankan kerja sama antardaerah (KSO) untuk menjaga pasokan komoditas strategis, termasuk kerja sama pasokan cabai merah dengan Kabupaten Karo.

Secara keseluruhan, kombinasi penopang domestik dan kebijakan stabilisasi memberi prospek yang lebih solid bagi ekonomi Sumut dalam beberapa triwulan mendatang, meski risiko dari dinamika global tetap perlu diwaspadai.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait