Ekonomi

Pelaku Usaha Didorong Perkuat Permodalan Hadapi Fluktuasi Dolar

Bagikan:
Pelaku usaha membahas permodalan menghadapi fluktuasi dolar

Jakarta, 8 Juni 2026 — Pelaku usaha manufaktur didorong memperkuat struktur permodalan untuk menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dorongan ini muncul untuk menjaga likuiditas, operasional, dan stabilitas ketenagakerjaan di tengah kenaikan biaya produksi.

Dampak langsung pada biaya dan utang

Ekonom Universitas Indonesia, Prof. Telisa Aulia Falianty, menyatakan banyak industri padat karya masih bergantung pada impor bahan baku. Kondisi ini membuat biaya produksi sensitif terhadap pelemahan rupiah.

Selain kenaikan biaya input, korporasi yang memiliki kewajiban utang berdenominasi mata uang asing menghadapi beban layanan utang yang meningkat. Tekanan ini berpotensi menggerus arus kas dan margin perusahaan.

Rekomendasi penguatan permodalan

Untuk menjaga ketahanan, pelaku usaha dianjurkan mengoptimalisasi struktur permodalan melalui beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah membentuk kemitraan modal dan aliansi strategis untuk menyuntikkan likuiditas baru.

Modal kerja yang lebih kuat akan membantu perusahaan menahan tekanan jangka pendek tanpa mengorbankan investasi produktif.

Peran kebijakan fiskal

Pemerintah diharapkan memperkuat instrumen fiskal untuk menjaga aliran kas perusahaan. Evaluasi restitusi pajak dan kebijakan PPN disebut sebagai opsi yang dapat meringankan beban likuiditas korporasi.

Stimulus fiskal bersifat sementara namun krusial untuk memberikan ruang bagi perusahaan menata kembali biaya produksi dan kontrak impor.

Pola adaptasi ketenagakerjaan

Dalam menanggapi tekanan biaya, pengelolaan tenaga kerja sebaiknya menjadi langkah terakhir. Telisa menekankan pentingnya efisiensi tanpa mengorbankan produktivitas dan kesejahteraan pekerja.

Ketika cost dari industri manufaktur itu naik, mereka kan harus melakukan efisiensi

Praktik yang direkomendasikan antara lain pengurangan jam kerja sementara, penjadwalan ulang produksi, dan skema kerja fleksibel sebelum mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja.

Arah ke depan

Secara ringkas, kombinasi penguatan permodalan korporasi, dukungan fiskal yang tepat, dan kebijakan ketenagakerjaan yang bijak diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan. Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dinilai krusial untuk mempertahankan daya beli masyarakat dan kestabilan ekonomi domestik.

Rekomendasi praktis:

  • Percepat negosiasi kemitraan modal dan investor strategis.
  • Evaluasi struktur utang, khususnya denominasi asing.
  • Manfaatkan instrumen fiskal sementara untuk menjaga arus kas.
  • Prioritaskan penyesuaian jam kerja ketimbang pemutusan hubungan kerja.
J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait