Airlangga Dukung Kemitraan Farmasi untuk Kurangi Impor Obat
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut terbentuknya PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI), joint venture antara PT Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical Group. Peresmian berlangsung di Jakarta akhir pekan lalu. Menko menilai kerja sama ini penting untuk mendorong kemandirian obat dan mengurangi ketergantungan impor.
Detail kemitraan dan tujuan
TCBI merupakan hasil kemitraan antara perusahaan farmasi Indonesia dan grup farmasi asal Tiongkok, Chia Tai Tianqing (CTTQ). Menko Airlangga menyatakan bahwa kemitraan ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap iklim investasi di Indonesia.
"Saya mengucapkan selamat, ini merupakan hal yang luar biasa. Kemitraan ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap iklim investasi dan prospek perekonomian di Indonesia,"
Target produk dan penyakit
Kerja sama ini diarahkan untuk mengembangkan biofarmasi nasional dan memenuhi kebutuhan obat untuk beberapa bidang klinis. Menko Airlangga menyebutkan fokus awal meliputi obat-obatan untuk:
- penanganan onkologi (kanker),
- penyakit hati (liver),
- diabetes,
- penyakit pernapasan,
- dan antiinfeksi.
Selain itu, perusahaan bersama ini diharapkan mampu memproduksi berbagai produk biologis bernilai tinggi, termasuk:
- antibodi monoklonal,
- biosimilar,
- protein rekombinan,
- sitokin,
- dan insulin biologis.
Dampak pada kemandirian industri farmasi
Airlangga menegaskan bahwa penguatan industri farmasi dalam negeri sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia memiliki kemandirian obat-obatan. Ia berharap produk yang dikembangkan mampu menggantikan impor, khususnya obat-obat yang selama ini relatif mahal.
"Apalagi obat-obat yang akan diproduksi ini termasuk obat-obat impor yang relatif mahal,"
Transfer teknologi dan penguatan rantai pasok
Selain produksi, kerja sama ini ditargetkan membawa manfaat lain seperti transfer teknologi, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Peningkatan kapabilitas manufaktur diharapkan memperkuat rantai pasok industri kesehatan dalam negeri.
Dengan langkah ini, pemerintah dan pelaku industri berharap jangka panjangnya adalah peningkatan daya saing industri farmasi Indonesia dan pengurangan ketergantungan impor obat-obatan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Sertifikasi Halal Jadi Modal UMKM Bangun Kepercayaan Konsumen
Sertifikasi halal harus dijalankan sebagai komitmen produksi bagi UMKM agar kepercayaan konsumen terjaga; pr...
Peran BUMN Minerba Perlu Diperkuat, Setoran Negara Belum Optimal
Pemerintah diminta memperkuat peran BUMN di sektor minerba karena kekayaan USD4 triliun belum tercermin pada...
Literasi Keuangan Diperkuat untuk Cegah Aktivitas Ilegal
Anis Byarwati minta literasi keuangan diperkuat melalui kolaborasi DPR, OJK, BSI, dan media untuk cegah akti...
Menkop Dorong Koperasi Manfaatkan Dana Bergulir di Borobudur Expo
Menteri Koperasi mendorong pemanfaatan dana bergulir lewat LPDB di Borobudur Expo 17-20 Sept 2026 untuk memp...
Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Naik 19 Sept 2026
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian naik pada 19 Sept 2026, masing-masing Rp16.000 dan Rp15.000 per gra...
Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu, Menguat Empat Hari Beruntun
Harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.638.000/gram pada 19 September 2026, memperpanjang penguatan empa...