IHSG Menguat 0,34% Pekan 20-24 Juli Meski Modal Asing Keluar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 0,34 persen pada pekan 20-24 Juli 2026, menutup di level 6.196, meski pasar masih mencatat aliran keluar modal asing. Laporan mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kenaikan aktivitas perdagangan, sementara investor berhati-hati terhadap risiko eksternal seperti kenaikan harga minyak dan kebijakan tarif impor AS.
Kinerja pasar mingguan
IHSG naik dari posisi 6.175,53 pada pekan sebelumnya menjadi 6.196. Peningkatan indeks berlangsung bersamaan dengan penguatan kapitalisasi pasar BEI yang tercatat meningkat.
Data aktivitas perdagangan
Pasar mencatat lonjakan aktivitas transaksi sepanjang pekan. Rata-rata volume dan nilai transaksi harian naik signifikan dibanding pekan sebelumnya.
| Item | Pekan 20-24 Juli | Pekan Sebelumnya | Perubahan |
|---|---|---|---|
| IHSG (penutupan) | 6.196 | 6.175,53 | +0,34% |
| Rata-rata volume harian | 43,68 miliar lembar | 26,17 miliar lembar | +66,88% |
| Rata-rata nilai transaksi harian | Rp19,76 triliun | Rp13,99 triliun | +41,21% |
| Rata-rata frekuensi transaksi | 2,67 juta kali | 2,33 juta kali | +14,4% |
| Kapitalisasi pasar | Rp10.870 triliun | Rp10.749 triliun | +1,13% |
| Aliran modal asing (net sell) | Rp1,36 triliun (jual bersih) | - | - |
| Akumulasi jual bersih asing 2026 | Rp79,09 triliun | - | - |
Aliran modal asing
Meski indeks menguat, investor asing masih tercatat melakukan net sell sebesar Rp1,36 triliun pada pekan lalu. Akumulasi jual bersih asing sepanjang 2026 mencapai Rp79,09 triliun, menunjukkan tekanan berkelanjutan dari luar negeri.
Sentimen pasar dan pemicu risiko
Sentimen investor dipengaruhi oleh faktor eksternal. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, yang memicu kekhawatiran tentang lonjakan inflasi global. Kekhawatiran itu meningkatkan kemungkinan bank-bank sentral, terutama the Fed, mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau kembali menaikkannya.
Di sisi kebijakan, pasar juga menunggu dampak kebijakan tarif impor AS. Pemerintah AS mengumumkan tambahan tarif 10 persen setelah investigasi terkait aturan tenaga kerja, termasuk tuduhan penggunaan kerja paksa, yang menimpa beberapa negara termasuk Indonesia.
Tim Phintraco Sekuritas menilai pelaku pasar akan lebih mencermati saham-saham energi jika kenaikan harga minyak berlanjut.
Prospek
Ke depan, pergerakan IHSG akan bergantung pada perkembangan harga energi, respons bank sentral global terhadap tekanan inflasi, serta dampak kebijakan perdagangan internasional. Investor disarankan memantau sektor energi dan kebijakan eksternal yang berpotensi mendorong volatilitas pasar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...