Ekonomi

Kemenkop, Kementan, dan LPDB Perkuat Ekosistem Gula Nasional

Bagikan:
Pertemuan Kemenkop, Kementan, dan LPDB untuk penguatan koperasi tebu dan industri gula di Semarang

Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian, dan LPDB Koperasi menggelar sosialisasi dan bimbingan teknis untuk memperkuat koperasi petani tebu serta membangun rantai pasok industri gula yang terintegrasi di Semarang. Kegiatan ini dihadiri menteri, wakil menteri, pimpinan LPDB, PT PG Rajawali I, serta pengurus 50 koperasi petani tebu dari beberapa provinsi, dengan tujuan meningkatkan tata kelola, akses pembiayaan, dan offtake hasil panen.

Pertemuan dan tujuan

Acara yang digelar di Kota Semarang itu menjadi platform sinergi antar pemangku kepentingan. Forum bertujuan mendorong koperasi petani tebu menjadi lembaga ekonomi profesional dan produktif. Selain itu, pertemuan ini juga membahas penguatan rantai pasok mulai dari petani sampai offtaker industri.

Pesan Menteri Koperasi

Menteri Koperasi menekankan peran BLU LPDB Koperasi dalam mempercepat transformasi koperasi petani tebu. Dia menegaskan pentingnya pendampingan dan inkubasi agar koperasi dapat memperbesar skala usaha dan menata tata kelola.

"LPDB Koperasi tidak hanya menyalurkan dana bergulir, tetapi juga membangun kapasitas koperasi melalui program inkubasi, pendampingan, dan peningkatan tata kelola sehingga koperasi menjadi lembaga yang sehat dan mampu memperbesar skala usahanya,"

Peran Kementan dan target produksi

Wakil Menteri Pertanian menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada gula konsumsi. Tantangan berikutnya adalah memenuhi kebutuhan gula industri dan bioetanol untuk program E10 dan E20. Ia menilai peningkatan produktivitas lahan dan rendemen kunci menekan biaya produksi dan menjaga pendapatan petani.

"Kalau produktivitas per hektare dan rendemen terus meningkat, biaya produksi gula akan semakin rendah sehingga harga bisa semakin kompetitif tanpa mengurangi pendapatan petani,"

LPDB: pembiayaan dan pendampingan

Direktur Utama LPDB menegaskan dukungan pembiayaan sekaligus pendampingan kelembagaan. LPDB hadir sebagai mitra strategis untuk menjadikan koperasi lebih profesional dan berdaya saing.

"LPDB Koperasi berkomitmen mendukung koperasi sektor pertanian tebu melalui pembiayaan yang mudah diakses, pendampingan usaha, dan peningkatan kapasitas kelembagaan,"

Data penyaluran Dana Bergulir

Hingga 30 Juni 2026, LPDB Koperasi mencatat realisasi penyaluran dana bergulir sebesar Rp22,4 triliun. Rinciannya adalah:

  • Skim Simpan Pinjam: Rp17,4 triliun
  • Skim Sektor Riil: Rp5 triliun

Pada periode Januari–Juni 2026, realisasi mencapai Rp1,07 triliun (Rp313,6 miliar untuk Simpan Pinjam dan Rp760,1 miliar untuk Sektor Riil). Penyaluran pembiayaan syariah sejak 2020 hingga 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp5,5 triliun, dengan realisasi semester I 2026 sebesar Rp506,7 miliar.

Implikasi dan langkah ke depan

Kolaborasi antara koperasi, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan industri menjadi fondasi pembangunan ekosistem gula nasional. Dengan tata kelola yang lebih baik dan akses pembiayaan yang memadai, koperasi diharapkan meningkatkan produktivitas petani, memperkuat rantai pasok, dan mendukung ketersediaan gula untuk konsumsi, industri, dan bioetanol.

Pemerintah dan mitra sektor menyatakan komitmen melanjutkan pendampingan dan memperkuat sinergi agar target swasembada gula nasional dan peningkatan kesejahteraan petani dapat tercapai.

Rafi Akbar
Penulis
Rafi Akbar

Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.

Berita Terkait