Indonesia Jajaki PTA dengan Maroko Perkuat Ekspor Manufaktur
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia menjajaki pembentukan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Maroko untuk memperluas akses pasar dan memperkuat rantai pasok industri. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Rabu, 15 Juli 2026. Langkah ini bertujuan mengamankan pasokan bahan strategis seperti fosfat dan aluminium, sekaligus meningkatkan ekspor manufaktur.
Pembentukan PTA dan tujuan strategis
Pemerintah menilai Maroko berposisi sebagai pintu gerbang ke Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kerja sama PTA diharapkan membuka akses produk Indonesia ke pasar regional yang lebih luas. Selain akses pasar, aspek keamanan pasokan bahan baku jadi fokus utama perundingan.
"Maroko memiliki posisi strategis sebagai gerbang menuju Afrika Utara dan kawasan Mediterania. Kami melihat peluang besar memanfaatkan keunggulan tersebut memperluas akses produk industri Indonesia ke pasar regional,"
Perdagangan nonmigas dan komoditas unggulan
Hubungan diplomatik kedua negara yang berlangsung sejak 1956 menjadi landasan memperkuat kerja sama ekonomi. Nilai perdagangan nonmigas 2025 tercatat naik hampir 33 persen menjadi 235 juta dolar AS. Pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk mendorong ekspor manufaktur.
Produk ekspor utama yang dipromosikan meliputi:
- Minyak nabati
- Karet
- Alas kaki dan tekstil
- Mesin dan peralatan listrik
- Kopi, teh, dan rempah
Perkuat kerja sama industri halal
Selain PTA, kedua negara menandatangani MRA Sertifikasi Halal antara BPJPH dan IMANOR pada Mei 2026. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk mempermudah pengakuan sertifikat halal dan mempercepat masuknya produk Indonesia ke pasar Maroko.
Kementerian Perindustrian mengundang delegasi Maroko ke Halal Expo 2026 untuk memperluas jejaring bisnis dan peluang investasi di sektor halal.
Kolaborasi rantai pasok dan industri dirgantara
Kedua negara membuka peluang kolaborasi memperkuat rantai pasok industri dirgantara, termasuk dukungan pengembangan kegiatan MRO di Indonesia. Ruang kerja sama mencakup peningkatan kapasitas SDM, penelitian bersama, promosi investasi, dan business matching.
Upaya ini diharapkan mendorong transfer teknologi dan memperkuat ekosistem manufaktur nasional.
Langkah lanjutan dan prospek
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perindustrian menyiapkan partisipasi dalam Indonesia-Maroko Business Forum pada awal 2027. Forum itu diharapkan memperluas kemitraan bisnis, mendorong investasi, dan mempercepat realisasi kerja sama yang telah dibahas.
Dengan inisiatif ini, pemerintah menargetkan peningkatan daya saing industri nasional sekaligus memperkuat ketahanan pasokan bahan baku strategis.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...