Film 'Autopsy: Dead Body Can Talk' Tayang 3 September 2026
Film Autopsy: Dead Body Can Talk akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 3 September 2026. Film ini menempatkan proses forensik sebagai kunci pengungkapan misteri, dan menyorot perjalanan Dr. Sumy Hastry Purwanti sebagai karakter utama.
Trailer dan poster memperlihatkan nuansa forensik
Trailer resmi berdurasi 2 menit 25 detik menampilkan suasana ruang autopsi yang dingin dan tegang. Dalam cuplikan terlihat jasad diposisikan sebagai alat bukti utama untuk membuka berbagai rahasia kasus.
Setiap detail pada tubuh korban — seperti luka, lebam, hingga jejak zat asing — ditampilkan sebagai petunjuk yang harus ditafsirkan oleh pemeriksa medis. Poster perdana menonjolkan sosok Dr. Sumy Hastry dan suasana ruang autopsi yang selama ini jarang terekspos publik.
Pendekatan cerita: realitas dan sisi psikologis
Sutradara Ozan Ruz mengatakan film ini lebih menonjolkan realitas dan dimensi psikologis ketimbang sekadar efek horor. Ia ingin menghadirkan ketegangan yang berasal dari proses ilmiah dan konflik batin tokoh utama.
"Melalui visual yang intim dan atmosfer menekan, saya ingin membawa penonton mengikuti perjalanan emosional Dr. Hastry. Empati menjadi kekuatan utama yang membimbingnya menemukan petunjuk melalui ilmu forensik." — Ozan Ruz
Sumber inspirasi dan pemeran
Aktris Masayu Anastasia menyebut cerita film ini berangkat dari inspirasi peristiwa nyata. Menurutnya, unsur tersebut membantu membangun kedekatan emosional antara penonton dan tokoh dalam cerita.
"Ide awal film ini berangkat dari kisah nyata yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat. Sosok Dr. Sumy Hastry Purwanti dipilih karena dedikasi dan kontribusinya dalam dunia forensik." — Masayu Anastasia
Film ini mengangkat perjalanan profesional dan personal Dr. Sumy Hastry Purwanti sebagai figur penting dalam dunia forensik Indonesia. Pendekatan naratif menempatkan ilmu forensik bukan hanya sebagai teknik, tetapi juga jembatan untuk mencari kebenaran.
Dampak dan harapan
Dengan fokus pada proses pemeriksaan medis dan sisi kemanusiaan pemeran utama, film diharapkan memberi pengalaman berbeda bagi penonton. Selain hiburan, film juga membuka ruang publik untuk memahami peran forensik dalam penegakan hukum.
Khususnya, film ini berpotensi memicu diskusi tentang etika pemeriksaan jenazah dan bagaimana bukti ilmiah menjadi dasar penegakan kebenaran. Penonton dapat menyaksikan kombinasi antara ketegangan misteri dan penggambaran profesionalisme medis.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Rekomendasi Film Adaptasi Gim, Termasuk Resident Evil (2026)
Tujuh rekomendasi film adaptasi gim untuk ditonton, termasuk Resident Evil yang tayang di Indonesia 16 Septe...
Produser Janji Bangun Rumah Singgah Jika Film Istimewa Capai 1 Juta
Produser film Istimewa berjanji membangun Rumah Singgah di tiap provinsi jika film mencapai satu juta penont...
Netflix Produksi Narnia: The Magician’s Nephew, Rilis Feb 2027
Netflix produksi film Narnia karya C. S. Lewis, sutradara Greta Gerwig; rilis bioskop 12 Feb 2027 dan tayang...
The Scandal Tayang di Netflix: Romansa Berbahaya di Era Joseon
The Scandal tayang di Netflix 18 Sept 2026; romansa berbahaya berlatar Joseon dengan Son Ye-jin, Ji Chang-wo...
ROSÉ Rilis 'new trick' dengan Nuansa Garage-Punk
ROSÉ rilis single 'new trick' (18 Sep 2026) berenergi garage-punk, video direkam pakai iPhone 18 Pro dan jad...
Netflix Rilis Trailer 'Tyson', Dokumenter Mike Tyson Tayang 13 Okt
Netflix rilis trailer serial dokumenter "Tyson" (4 episode) yang tayang 13 Okt 2026; juga umumkan special "R...