Nasional

Perbaikan Rantai Pasok Kunci Ketahanan Energi, Kata Ekonom

Bagikan:
Ilustrasi rantai pasok dan penyimpanan bahan bakar

Ekonom Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai perbaikan rantai pasok menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pernyataan itu disampaikan saat wawancara di Pro3 RRI Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Inti rekomendasi: perbaiki rantai pasok

Yayan mengatakan ketahanan energi memiliki beberapa indikator utama, yaitu ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan daya beli energi. Menurutnya, ketergantungan impor menjadi salah satu faktor yang membuat ketahanan energi Indonesia rentan.

Untuk itu, ia menekankan perlunya memperbaiki rantai pasok agar distribusi energi menjadi lebih efisien dan andal. Pernyataan Yayan menyoroti tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur yang menghambat distribusi energi ke seluruh daerah.

“Yang paling penting itu dibereskan dulu rantai pasoknya. Harus se-efisien mungkin,” ujar Yayan.

Stok BBM dan kapasitas penyimpanan

Yayan mengingatkan kondisi stok BBM yang pernah disebut oleh Pertamina, yakni ketersediaan Pertalite dan Biosolar sekitar 15 hari. Ia menilai pemerintah perlu memperkuat fasilitas penyimpanan dan distribusi BBM untuk menjaga keandalan pasokan nasional.

Tanpa kapasitas penyimpanan dan infrastruktur distribusi yang memadai, kebijakan lain bisa berisiko menambah beban fiskal dan mengurangi efektivitas distribusi energi.

Satu harga Migas butuh dukungan infrastruktur

Soal kebijakan satu harga yang diatur dalam RUU Migas, Yayan memberi peringatan bahwa kebijakan tersebut harus diimbangi perbaikan infrastruktur rantai pasok. Jika tidak, penerapan satu harga berpotensi menghasilkan beban subsidi yang lebih besar bagi pemerintah.

“Walaupun pemerintah di RUU Migas itu ingin menerapkan satu harga, ya. Tetapi kalau tanpa diimbangi dengan perbaikan infrastruktur rantai pasok Migas, saya kira itu gak akan jalan,” katanya.

Efisiensi BUMN dan pemanfaatan sumber daya

Selain infrastruktur, Yayan juga menyoroti perlunya efisiensi pengelolaan di BUMN energi. Ia menyebut revitalisasi Pertamina dan PLN sebagai langkah penting untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan energi nasional.

Yayan menekankan pengelolaan berkelanjutan atas sumber daya domestik seperti gas, batu bara, dan mineral agar manfaatnya lebih luas bagi masyarakat.

“Jadi kita ini parsial, kita relatif tahan, tetapi sebagian lagi kita masih relatif rentan. Terutama dari sisi ketersediaan dan rantai pasok yang memang masih belum efisien,” ucapnya.

Kesimpulan dan prospek

Pemerintah telah menetapkan penguatan ketahanan energi sebagai prioritas kebijakan dan mengakui kapasitas penyimpanan BBM perlu ditingkatkan. Langkah konkret memperbaiki rantai pasok, meningkatkan kapasitas penyimpanan, dan mendorong efisiensi BUMN akan menentukan sejauh mana Indonesia mampu mengurangi kerentanan pasokan energi ke depan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait