Kesehatan

Menkes Masukkan Pengalaman Pasien ke Akreditasi Rumah Sakit

Bagikan:
Ilustrasi pasien dan tenaga kesehatan di rumah sakit saat proses layanan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan kebijakan baru yang memasukkan pengalaman pasien dan tenaga kesehatan sebagai indikator penilaian akreditasi rumah sakit pada rapat bersama DPR RI di Jakarta, Senin, 14 September 2026. Langkah ini merespons kesenjangan antara predikat akreditasi dan kualitas layanan yang dirasakan langsung masyarakat.

Arah perubahan akreditasi

Budi menyatakan penilaian eksternal selama ini cenderung berupa checklist formalitas dan belum menggambarkan layanan harian kepada pasien. Ia menilai akreditasi perlu mengukur bagaimana pasien dilayani setiap hari, bukan hanya saat audit berkala.

Kami mengamati penilaian eksternal rumah sakit yang dilakukan Kemenkes sebagian masih bersifat checklist atau formalitas. Padahal, penilaian tersebut harus mampu menggambarkan kualitas pelayanan pasien setiap saat

Masalah yang ingin diatasi

Pernyataan menteri mengemukakan sejumlah persoalan di rumah sakit, antara lain kematian ibu dan anak, penundaan pembayaran dokter, dan kendala ketersediaan obat. Laporan masyarakat melalui jalur formal dan media sosial menunjukkan perbedaan antara indikator mutu dan pengalaman pasien.

Belum benar-benar bisa menilai bagaimana pasien terlayani setiap saat. Pasien tidak masuk tiap lima tahun sekali untuk mengecek rumah sakit, tetapi mereka datang tiap hari untuk menggunakan layanan kesehatan

Komponen penilaian baru

Menurut Kemenkes, penilaian mutu akan diarahkan pada aspek yang langsung berdampak pada pengalaman pasien. Penilaian ini meliputi proses pendaftaran, antrean dokter, ketersediaan obat, kualitas pelayanan dokter, hingga hasil tindakan operasi.

Secara ringkas, komponen yang akan dinilai antara lain:

  • Waktu pendaftaran dan lama antrean
  • Ketersediaan dan kecepatan pemberian obat
  • Kualitas tindakan operasi dan tingkat readmisi
  • Kepastian pembayaran tenaga kesehatan tepat waktu

Untuk proses utama, kami akan menilai apakah pendaftaran dan antrean dokter berlangsung lama atau tidak. Selain itu, kami melihat apakah pemberian obat kepada pasien berlangsung cepat atau justru mengalami keterlambatan

Publikasi hasil dan tujuan

Kemenkes berniat mempublikasikan hasil penilaian agar masyarakat bisa ikut mengontrol mutu layanan. Budi menegaskan perubahan ini bertujuan pembinaan, bukan hukuman, sehingga rumah sakit terdorong memperbaiki layanan.

Hasil penilaian nantinya akan kami publikasikan agar masyarakat dapat ikut mengontrol kualitas pelayanan rumah sakit. Perubahan sistem akreditasi ini bukan untuk menghukum, tetapi membina rumah sakit agar pelayanan semakin baik

Contoh mekanisme penilaian langsung

Salah satu ide yang disebutkan adalah penggunaan penilaian sederhana oleh pasien, misalnya ikon senyum atau cemberut, sebagai indikator kepuasan. Mekanisme ini diharapkan memberi gambaran real time tentang pengalaman pasien selama menerima layanan.

Dengan memasukkan pengalaman pengguna layanan sebagai elemen penilaian, Kemenkes berharap akreditasi mencerminkan kondisi riil di lapangan dan mendorong perbaikan berkelanjutan pada pelayanan rumah sakit.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait