Penyintas Gempa NTT Butuh Terpal dan Dapur Umum, Human Initiative
Human Initiative menyatakan penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur masih membutuhkan bantuan dasar seperti terpal, makanan, air minum, dan fasilitas dapur umum.
Pernyataan itu disampaikan oleh Komandan Emergency Response Human Initiative, Subur Rojinawi, pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia menjelaskan banyak korban memilih bertahan di luar rumah karena takut memasuki bangunan yang rusak akibat gempa dan gempa susulan.
Kebutuhan mendesak di lapangan
Di lokasi terdampak, kebutuhan yang paling mendesak meliputi terpal sebagai tempat berlindung sementara, paket sembako, air minum, serta penyediaan dapur komunal untuk memasak bersama.
Manager Humanitarian Program Management Human Initiative, Deni Kurniawan, mengatakan tim lapangan telah membawa sekitar 200 paket sembako. Selain itu, tim menyiapkan hygiene kit, perlengkapan tidur, dan pakaian hangat untuk penyintas.
"Fokus kepada penyediaan terpal, perlengkapan tidur, dan pakaian hangat menjadi satu utama,"
Deni menambahkan bahwa dapur komunal diperlukan karena banyak warga takut masuk ke rumah untuk memasak sendiri.
Pengungsian mandiri dan tantangan pendataan
Subur menjelaskan sebagian warga mengungsi secara mandiri ke bukit, lapangan, kebun, atau lokasi terbuka lainnya. Kondisi ini menyulitkan upaya pendataan yang dilakukan pemerintah daerah.
"Yang dibutuhkan paling utama itu terpal, sembako, dan mungkin dibuatkan dapur-dapur umum,"
Human Initiative bersama relawan aktif mendata penyintas yang tersebar agar bantuan bisa tepat sasaran. Mereka memprioritaskan kelompok rentan seperti bayi, balita, lansia, dan keluarga dengan kebutuhan khusus.
Dukungan psikososial dan koordinasi
Selain bantuan logistik dan tempat tinggal sementara, tim menilai dukungan psikososial penting untuk membantu penyintas menghadapi trauma pasca-gempa dan kehilangan tempat tinggal.
Human Initiative telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan organisasi kemanusiaan lain untuk menyelaraskan layanan psikososial dan distribusi bantuan. Kolaborasi ini diharapkan mempermudah penanganan penyintas yang tersebar di berbagai titik.
Pemulihan jangka pendek akan fokus pada penyediaan perlindungan darurat dan kebutuhan dasar. Namun demikian, kebutuhan berkelanjutan tetap diperlukan seiring proses penilaian kerusakan dan rehabilitasi yang lebih luas.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Komisi VII Pertimbangkan Perizinan Satu Pintu Kawasan Industri
Komisi VII DPR menimbang perizinan satu pintu untuk kawasan industri demi percepat izin dan atasi hambatan S...
Wamendagri: Pemerintah Siap Bahas RUU Pemilu Bersama DPR
Wamendagri Bima Arya menyatakan pemerintah siap memulai pembahasan RUU Pemilu bersama Komisi II DPR RI dan t...
Sugiono Resmi Menjabat Menko PMK, Gantikan Pratikno
Sugiono resmi mulai bertugas sebagai Menko PMK menggantikan Pratikno setelah serah terima jabatan di Kemenko...
MenImipas Cabut Pembebasan Bersyarat Indra Kenz: Remisi Dinyatakan Tak Sesuai
MenImipas mencabut pembebasan bersyarat Indra Kenz karena proses remisi dinyatakan tidak sesuai ketentuan se...
HUT ke-81 TNI: Fahira Idris Tegaskan TNI Kuat Bersama Rakyat
Fahira Idris beri penghormatan pada HUT ke-81 TNI (5 Okt 2026) dan menekankan pentingnya TNI bersama rakyat...
Mitra Karawangjaya Ungkap Hambatan Pengelolaan Kawasan Industri
PT Mitra Karawangjaya menyampaikan kendala SHGB, SIPA, akses tol, dan gangguan keamanan yang mengancam kepas...