Nasional

Pengungsi Gempa NTT Naik Jadi 192.303, Ngada 21.552 Orang

Bagikan:
Pengungsi gempa di Nusa Tenggara Timur menunggu bantuan dan evakuasi

BNPB memperbarui data penanganan gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) per 29 Agustus 2026: jumlah pengungsi meningkat 16.394 orang sehingga total mencapai 192.303 orang, dengan lonjakan terbesar terjadi di Kabupaten Ngada.

Lonjakan pengungsi di Ngada dan total wilayah terdampak

Hasil validasi lapangan menunjukkan bertambahnya pengungsi dibanding laporan sebelumnya. Penambahan terbesar tercatat di Kabupaten Ngada, dari 3.259 orang menjadi 21.552 orang.

"Kalau beberapa dua hari yang lalu kita mendapatkan pengurangan, tapi kali ini adalah tambahan. Dan ketambahannya sebesar 16.394 orang," kata Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam konferensi pers daring pada Sabtu, 29 Agustus 2026.

Korban jiwa dan profil terdampak

Sampai pembaruan terakhir, BNPB mencatat 111 korban jiwa akibat gempa. Kabupaten Manggarai melaporkan jumlah korban meninggal terbanyak yaitu 45 orang, diikuti Manggarai Timur 38 orang dan Nagekeo 13 orang.

Analisis korban menurut jenis kelamin dan usia menunjukkan perempuan menjadi kelompok terdampak terbesar, yaitu 56,4%, sedangkan laki-laki 43,6%. Berdasarkan usia, korban didominasi kelompok lanjut usia sebesar 45%, lalu kelompok dewasa 37%.

Distribusi logistik dan dukungan bantuan

Penanganan darurat terus dilakukan melalui distribusi bantuan logistik. BNPB melaporkan menerima tambahan bantuan sebesar 5 ton pada hari Sabtu, sementara bantuan yang telah dikirim ke beberapa wilayah mencapai 22 ton pada periode laporan ringkas tersebut.

Secara kumulatif, pada periode 15 sampai 29 Agustus 2026 jumlah logistik yang terkirim tercatat 1.916 ton. Sebaran utama bantuan adalah:

  • Labuan Bajo: 1.200 ton
  • Maumere: 598 ton
  • Manggarai Barat: 12 ton
  • Manggarai Timur: 30 ton

Pemutakhiran data dan tindak lanjut

BNPB menegaskan pemutakhiran data akan terus dilakukan seiring proses validasi di lapangan. Pembaruan diperlukan agar penanganan pengungsi, perhitungan korban terdampak, dan distribusi bantuan dapat disesuaikan dengan kebutuhan tiap wilayah.

Dengan data terbaru, pihak penanggulangan bencana dapat mengalokasikan sumber daya lebih tepat sasaran dan merencanakan fase pemulihan berikutnya.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait