Panen PM-AAS Tembus 10 Ton/Ha, Produktivitas Padi Naik 63%
Penerapan PM-AAS (Modern–Advanced Agriculture System) mulai menunjukkan lonjakan produktivitas padi di berbagai daerah pada musim tanam pertama 2026. Kementerian Pertanian bersama Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) melaporkan hasil panen hingga 12,5 ton per hektare di beberapa demplot, dengan rerata 10,34 ton GKP per hektare menurut ubinan BPS.
Hasil panen di beberapa lokasi
Pengujian multi-lokasi PM-AAS dilakukan di sekitar 2.000 hektare di 15 provinsi. Beberapa kabupaten melaporkan lonjakan hasil dibanding praktik konvensional. Penerapan mencakup pola tanam jajar legowo, varietas unggul, pengelolaan air, dan kendali hama terpadu.
"Swasembada alhamdulillah sudah tercapai. Nah sekarang pendekatannya adalah kesejahteraan," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, demplot seluas 100 hektare menghasilkan sekitar 12,5 ton per hektare. Bupati setempat menyatakan angka ini naik signifikan dari rata-rata sebelumnya 7–8 ton per hektare.
Di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, petani melaporkan kenaikan dari 5–7 ton per hektare menjadi sekitar 11 ton per hektare setelah menerapkan paket PM-AAS.
Data ubinan BPS dan capaian produktivitas
Ubinan Kerangka Sampel Analisis (KSA) Badan Pusat Statistik mencatat produktivitas:
| Indikator | Produksi (ton/ha) |
|---|---|
| PM-AAS (GKP) | 10,34 |
| Praktik non-PM-AAS (GKP) | 6,32 |
Perbedaan ini setara dengan tambahan produktivitas sekitar 4,02 ton per hektare atau kenaikan 63,46 persen. Dari 18 lokasi yang sudah panen, 12 lokasi (66,7 persen) mencapai minimal 10 ton GKP per hektare.
Metode dan efisiensi produksi
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyebut PM-AAS sebagai paket teknologi budidaya terpadu yang menggabungkan varietas unggul, tanam rapat, pengelolaan hara, dan pengendalian hama.
"PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produktivitas. Tetapi juga membangun sistem budidaya yang lebih efisien dan adaptif," kata Fadjry.
Di Merauke, metode tanam dengan drum seeder atau paralon mempercepat proses bibit. Beberapa petani mengombinasikan teknik tersebut dengan penggunaan drone untuk penyemprotan dan pemantauan, sehingga menghemat tenaga kerja.
Implikasi dan rencana perluasan
Peningkatan produktivitas ini penting karena produktivitas padi nasional relatif stagnan selama dua dekade. Menteri menekankan bahwa peningkatan hasil harus diikuti penurunan biaya usaha tani agar menyentuh kesejahteraan petani.
"Kalau disiplin, produksinya tidak akan di bawah delapan ton. Bisa 10 ton, bahkan 12 ton," ujar Amran.
Penerapan PM-AAS rencananya akan diperluas ke lebih banyak wilayah untuk memperkuat produktivitas, efisiensi usaha tani, dan keberlanjutan produksi pangan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pengungsi Gempa NTT Naik Jadi 192.303, Ngada 21.552 Orang
BNPB: jumlah pengungsi gempa NTT naik 16.394 orang jadi 192.303; Ngada melonjak ke 21.552 pengungsi. Data di...
RUU Perampasan Aset Dinilai Perkuat Penegakan Hukum Korupsi
RUU Perampasan Aset dinilai memperkuat penegakan hukum korupsi; akademisi UKI minta pengesahan cepat dan pen...
BGN Wajibkan Kepala SPPG Masuk Dapur Jam 02.00, Ini Penjelasan
BGN mewajibkan kepala SPPG hadir di dapur mulai pukul 02.00–08.00 dan memberi sanksi hingga pemecatan bagi y...
BGN Kecualikan 80 Sekolah Elite dari Program MBG
BGN mengecualikan sekitar 80 sekolah swasta elite dari Program MBG dan memperketat pengawasan operasional SP...
Pemalsuan Dokumen SPPG: BGN Temukan Belasan Unit, Ancaman Pidana
BGN temukan belasan SPPG diduga memalsukan dokumen dari 27.022 penerima surat; Sudaryono peringatkan ancaman...
MPR Publikasikan Rancangan Naskah PPHN, Ini Cara Aksesnya
MPR RI mempublikasikan rancangan Naskah PPHN agar publik dapat mengakses dan memberi masukan melalui laman r...