Nasional

Wamen: Pusat Pengembangan Bioetanol Perkuat Ketahanan Energi

Bagikan:
Peresmian Bioethanol Development Center Tegineneng oleh Wamen Investasi di Lampung

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, meresmikan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, pada 14 September 2026. Peresmian ini bagian dari kerja sama antara PT Pertamina New & Renewable Energy dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi menjelang rencana peningkatan campuran bioetanol pada bensin hingga E20.

Tujuan dan konteks kebijakan

Langkah ini ditempuh untuk menghadapi proyeksi konsumsi bensin nasional yang diperkirakan mencapai 39,7 juta kiloliter pada 2029. Todotua menilai pengembangan bioetanol penting untuk memastikan pasokan energi terbarukan dan menambah nilai pada komoditas pertanian.

"Perjalanan kami, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM berkolaborasi dengan PNRE dan Toyota (TMMIN) ini merupakan milestone yang penting. Setelah beberapa kali melakukan koordinasi, kita sampai pada tahap launching, fokus selanjutnya adalah menjaga momentum agar investasi terealisasi dan proyek berjalan sesuai rencana,"

Fasilitas dan kapasitas uji

Bioethanol Development Center dibangun sebagai fasilitas pengujian dan pengukuran keekonomian produksi bioetanol. Pada tahap awal kapasitas uji ditetapkan sebesar 60 kiloliter untuk menghitung biaya produksi dan daya saing komersial.

"Pusat pengembangan ini kita bangun untuk mengukur aspek komersialisasinya. Seberapa kompetitif biaya produksi yang bisa kita capai,"

Todotua menargetkan fasilitas mulai memproduksi bioetanol paling lambat Desember 2026, dengan target peningkatan kapasitas menjadi 60 ribu kiloliter pada 2027.

Bahan baku dan model pengembangan

Fasilitas mengadopsi konsep multi-feedstock untuk memastikan fleksibilitas pasokan bahan baku dan menguji berbagai alternatif.

  • Tebu
  • Singkong
  • Sorgum
  • Molases dan limbah biomassa

"Pengembangan bioethanol ini memiliki keterkaitan dengan empat agenda utama, yakni ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi dan ketahanan ekonomi. Indonesia memiliki berbagai sumber bahan baku, antara lain tebu, singkong, sorgum yang dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan nilai tambah di dalam negeri,"

Dampak pada petani dan koperasi

Pusat pengembangan juga dirancang untuk memperkuat konektivitas antara sektor pertanian dan industri pengolahan. Masyarakat lokal dan koperasi diarahkan menjadi penyedia bahan baku sekaligus pusat pengumpulan sebelum diserap oleh fasilitas sebagai offtaker.

"Jadi, masyarakat juga bisa ikut menanam, konsep koperasi pun bisa kita jalankan. Koperasi nantinya menjadi pusat pengumpulan bahan baku, sementara fasilitas di sini menjadi penyerap atau offtaker-nya,"

Prospek dan langkah ke depan

Pengembangan bioetanol diharapkan membuka pasar alternatif bagi produk pertanian dan memperkuat peran petani serta koperasi dalam rantai pasok energi terbarukan. Keberhasilan tahap uji akan menjadi dasar peningkatan investasi dan kapasitas produksi skala besar yang sejalan dengan target campuran bioetanol di bahan bakar kendaraan.

Dengan dukungan industri otomotif, pemerintah menilai keterkaitan antara pengembangan bahan bakar dan teknologi kendaraan penting agar pemanfaatan bioetanol di sektor transportasi dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait