Pengangguran Muda Tinggi, Kesenjangan Keterampilan Jadi Tantangan
Pengangguran usia produktif di Indonesia masih tinggi karena dominasi sektor informal dan ketidaksesuaian keterampilan pencari kerja. Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kemnaker, Anwar Sanusi, menyebut permasalahan ini perlu intervensi pemerintah melalui pelatihan dan pemagangan agar peluang kerja berkelanjutan dapat tercapai.
Kesenjangan keterampilan sebagai pemicu utama
Anwar menilai skill gap antara kompetensi yang dimiliki pencari kerja dan kebutuhan industri jadi masalah sentral pasar tenaga kerja. Ia menyebut pemerintah harus mempersempit jurang tersebut lewat program vokasi dan pemagangan yang relevan dengan kebutuhan industri.
"Skill gap, ini tantangan yang menurut kita pemerintah sesuatu yang harus kita lakukan intervensi bagaimana mendekatkan atau mengurangi skill gap tersebut,"
— Anwar Sanusi
Memperkuat sistem pasar kerja nasional
Pemerintah bekerja memperkuat labor market system agar informasi lowongan dan kebutuhan kompetensi tersambung akurat dengan pencari kerja. Sistem ini ditargetkan menyediakan data pekerjaan yang mutakhir, valid, dan sesuai kompetensi para pencari kerja.
"Kita aktif labor market system (sistem pasar tenaga kerja), jadi sistem pasar kerja yang lebih aktif dengan kita tentunya memperkuat sistem pasar kerja nasional,"
— Anwar Sanusi
Data BPS: pengangguran muda lebih tinggi dari nasional
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat meski Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional turun, pengangguran kelompok usia muda justru meningkat signifikan. Kelompok usia 15–24 tahun mencatat TPT sekitar 16–17%, jauh di atas angka nasional.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| TPT Nasional (Mei 2026) | 4,65% (sekitar 7,22 juta orang) |
| TPT Usia 15–24 tahun | ~16–17% |
| Pengangguran lulusan perguruan tinggi | 1,03 juta (14,31% dari 7,22 juta) |
Fokus pada sektor yang menyerap tenaga kerja
Anwar mendorong pemerintah memetakan industri yang memiliki potensi penyerapan tenaga kerja muda secara berkelanjutan. Ia juga mengingatkan kondisi sektor pertanian yang menghadapi penuaan petani sehingga kurang menarik bagi generasi muda.
"Kalau dari sisi kami melihat kenapa angka produktif masih cukup tinggi, karena memang ada beberapa aspek,"
— Anwar Sanusi
Kewirausahaan dan sinergi lintas pemerintah
Selain pelatihan, Anwar mengajak generasi muda menimbang kewirausahaan sebagai alternatif penciptaan lapangan kerja. Ia menekankan perlunya kolaborasi pusat-daerah dan antar-kementerian untuk memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja muda.
Perbaikan keterampilan dan koordinasi kebijakan akan menjadi penentu utama dalam menurunkan pengangguran pemuda ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BGN: Mengapa MBG Tidak Boleh Dibawa Pulang siswa
BGN minta sekolah menegaskan larangan membawa pulang MBG karena risiko keamanan pangan dan potensi keracunan...
Martha Christina Tiahahu, Srikandi Muda dari Nusa Laut
Martha Christina Tiahahu, gadis Nusa Laut yang berjuang melawan Belanda sejak 1817, ditangkap, dibuang ke Ja...
OJK dan Kementerian UMKM Bentuk Satgas untuk Integrasi Program UMKM
OJK dan Kementerian UMKM membentuk satgas pada 12 Agustus 2026 untuk mengintegrasikan program, memperluas ak...
BMKG: Potensi Hujan Lebat, Namun Sumsel Berisiko Kekeringan
BMKG ingatkan potensi hujan lebat pada 12 Agustus 2026, sementara Sumatra Selatan berisiko kekeringan akibat...
BGN Libatkan Kejaksaan Perketat Pengawasan Program MBG
BGN minta Kejati dan Kejari mendampingi pelaksanaan MBG untuk perbaiki tata kelola, cegah masalah hukum, dan...
Dewi Sartika, Pelopor Pendidikan Perempuan Indonesia
Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri pada 1904, membuka akses pendidikan dan keterampilan bagi perempuan pri...