DPR: Pencegahan Dini Terintegrasi Perlu untuk Tangani Karhutla
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menegaskan perlunya perubahan strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari pendekatan reaktif ke pencegahan dini yang terintegrasi. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa, 30 Juni 2026, dengan alasan karhutla kini mengancam stabilitas ekonomi, kesehatan masyarakat, keanekaragaman hayati, dan target penurunan emisi Indonesia.
Urgensi perubahan strategi
Alex menyampaikan bahwa dinamika perubahan iklim global dan potensi siklus El NiƱo menuntut kesiapan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, pemerintah tidak lagi bisa bergantung pada pola penanganan setelah kebakaran terjadi.
Kita tidak bisa lagi menggunakan pendekatan pemadam kebakaran yang bersifat reaktif. Namun harus bergeser secara radikal menuju penguatan pencegahan dini atau preventif
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya meluas hingga sektor ekonomi dan kesehatan, sehingga butuh kebijakan yang bersifat lintas sektoral dan berkelanjutan.
Langkah pencegahan yang diminta
Alex meminta Kementerian Kehutanan dan pihak terkait memberi perhatian serius pada aspek-aspek teknis dan sosial yang mendukung upaya preventif. Ia merinci beberapa fokus utama yang harus segera diperkuat.
- Sistem peringatan dini dan deteksi hotspot yang akurat dan responsif untuk mengantisipasi titik api sebelum meluas.
- Keterlibatan masyarakat dalam perlindungan hutan, termasuk penguatan kapasitas lokal dan mekanisme pelaporan.
- Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan untuk menimbulkan efek jera.
- Kecukupan anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan pencegahan, deteksi, dan pemberdayaan komunitas.
Mari kita evaluasi hambatan di lapangan. Dan membahas strategi pencegahan yang jauh lebih terintegrasi dan praktis
Peran DPR dan tindak lanjut
Alex menegaskan Komisi IV DPR RI akan mendukung upaya penanganan karhutla melalui fungsi legislasi, pengawasan, dan dukungan anggaran. Dukungan ini, tegasnya, diberikan sepanjang anggaran dan kebijakan diarahkan untuk melindungi lingkungan dan masyarakat.
Komitmen parlemen menjadi penting untuk memastikan kebijakan pencegahan mendapat prioritas, serta untuk mendorong koordinasi yang lebih baik antar kementerian dan pemerintah daerah.
Implikasi dan prospek
Peralihan dari respons reaktif ke strategi preventif terintegrasi membutuhkan perubahan kebijakan dan investasi jangka panjang. Keberhasilan juga bergantung pada sinergi antara pemerintah pusat, daerah, penegak hukum, dan masyarakat lokal.
Dengan kesiapan lebih baik menghadapi siklus cuaca ekstrem, diharapkan kebakaran dan kabut asap dapat diminimalkan sehingga dampak ekonomi dan kesehatan publik juga berkurang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Menko Muhaimin Dorong '1001 Pasar Rakyat' untuk Perkuat UMKM
Menko Muhaimin dorong konsep 1001 Pasar Rakyat di Bekasi (4 Okt 2026) untuk memperkuat UMKM, koperasi, dan k...
Kemenko PM: Kolaborasi Kunci Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Kemenko PM: kolaborasi pemilik lahan, local champion, dan pemerintah jadi kunci pemberdayaan UMKM dan ekonom...
Zulhas: Pangkas Aturan, RI Berhenti Impor 7 Komoditas Pangan
Zulhas: pemangkasan aturan dorong RI hentikan impor tujuh komoditas, naikkan penyerapan pupuk dan surplus be...
Gempa M 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Sejumlah Rumah Rusak
Gempa M 6,1 mengguncang Sumba Barat Daya pada 4 Okt 2026, merusak sejumlah rumah dan membuat warga batal ber...
APP Group Dorong Transfer Pengetahuan Antar Generasi Pekerja
APP Group mendorong transfer pengetahuan dari karyawan senior ke generasi muda melalui Long Service Award 20...
Kemenperin Dorong IKM Fesyen Baca Pasar lewat Design Canvas
Kemenperin mendorong IKM fesyen gunakan Design Canvas & Maker untuk menciptakan produk sesuai kebutuhan kons...