Politik

PDIP Tuban Bahas Pemikiran Soekarno dan Relevansinya

Bagikan:
Peserta diskusi Pemikiran Soekarno oleh DPC PDI Perjuangan Tuban di halaman kantor DPC

Tuban — Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Tuban menggelar diskusi ideologi bertajuk "Pemikiran Soekarno dan Relevansinya" pada Selasa malam, 30 Juni 2026. Acara berlangsung di halaman kantor DPC PDIP Tuban dan membedah tiga pilar pemikiran Bung Karno serta pidato pledoi "Indonesia Menggugat" tahun 1930.

Inti pembahasan: Marhaenisme dan konteks modern

Ketua DPC PDIP Tuban, Ony Setiawan, menilai gagasan Bung Karno tentang Marhaenisme, Pancasila, dan Dasasila Bandung masih relevan untuk menghadapi tantangan geopolitik dan ekonomi masa kini. Ony mengatakan kemelaratan dan penindasan fisik era kolonial kini berubah bentuk menjadi neokolonialisme dan neoliberalisme yang menciptakan ketergantungan ekonomi baru.

Dalam pemaparannya Ony menggambarkan perubahan struktur Marhaen. Jika dulu Marhaen adalah petani gurem atau kusir dokar, kini kelompok rentan meliputi pengemudi ojek online, pekerja lepas, buruh kontrak, dan pelaku UMKM.

"Jika dulu Bung Karno mengidentifikasi kaum Marhaen sebagai petani gurem, nelayan tradisional, atau kusir dokar, maka struktur Marhaen modern hari ini telah bergeser," kata Ony.

Berdikari dan rekomendasi kebijakan

Ony menekankan bahwa esensi Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri pada abad ke-21 harus diwujudkan lewat kebijakan strategis. Ia menyarankan program hilirisasi industri, swasembada pangan, kedaulatan energi, dan penguatan produk domestik untuk menahan dominasi impor.

"Marhaenisme harus diposisikan sebagai 'pisau analisa' untuk memastikan Pancasila bekerja menghapus segala bentuk eksploitasi," Ony menyimpulkan.

Respons akademisi dan tokoh agama

Diskusi itu juga dihadiri berbagai elemen masyarakat dan memantik tanggapan dari tokoh lokal. Sujono Ali Mujahidin, dosen Universitas Sunan Bonang, mengapresiasi pendekatan dialogis karena menempatkan Pancasila sebagai panduan tindakan, bukan sekadar teks formal.

Sementara Gus Riza Shalihadin Habibi, pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shomadiyah Tuban, menekankan pentingnya internalisasi ideologi yang sistematis namun sederhana agar generasi muda memahami esensinya.

"Jika kader lupa Pancasila, kita kehilangan arah. Jika kader lupa Marhaen, kita akan kehilangan rakyat," ujar Gus Riza.

Penutup: Implikasi bagi kebijakan lokal

Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada pemenang lomba kreativitas videografi sebagai bagian peringatan Bulan Bung Karno. Diskusi ini mendorong kader dan pemangku kepentingan di Tuban untuk menerjemahkan gagasan Bung Karno ke dalam kebijakan pro-rakyat yang konkret.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait