Nasional

Mentrans: Pembangunan Transmigrasi Harus Terintegrasi

Bagikan:
Menteri Transmigrasi menyampaikan perencanaan kawasan transmigrasi terintegrasi di Jakarta

Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan pembangunan kawasan transmigrasi tidak boleh lagi bersifat sporadis. Pernyataan itu disampaikan dalam dialog tentang masa depan transmigrasi pada Senin, 24 Agustus 2026, di Jakarta. Ia menekankan perlu pendekatan terintegrasi untuk memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas.

Arah kebijakan: dari pemindahan ke penguatan ekonomi

Iftitah menyebut tantangan geopolitik dan ekonomi global menuntut model pembangunan yang menyatukan aspek ekonomi, sosial, dan pelayanan publik. Pendekatan baru ini menggeser paradigma lama yang fokus pada pemindahan penduduk semata menjadi pembangunan berbasis potensi kawasan.

Yang dibutuhkan pada hari ini bukan lagi pembangunan yang sporadic. Namun, pembangunan ekonomi yang betul-betul memberikan makna.

Lima program prioritas Kementerian Transmigrasi

Untuk menerjemahkan arah kebijakan tersebut, Kementerian Transmigrasi menyiapkan lima program utama. Kelima program ini dirancang agar berjalan serentak dalam satu pola pembangunan kawasan yang berkelanjutan.

  • TransTuntas — pemanfaatan lahan transmigrasi secara produktif.
  • TransLokal — pengembangan ekonomi lokal dan usaha mikro.
  • TransPatriot — peningkatan ketahanan melalui sumber daya lokal.
  • TransKaryanusa — penciptaan lapangan kerja dan penguatan industri.
  • TransGotongRoyong — pembangunan berbasis komunitas dan kerja sama.

Kelima program transmigrasi tidak mungkin berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus menjadi satu kesatuan dalam membangun kawasan berkelanjutan.

Perubahan paradigma dan urutan prioritas

Iftitah menjelaskan urutan pelaksanaan program: identifikasi potensi ekonomi, pembangunan industri, penyediaan lapangan kerja serta layanan pendidikan dan kesehatan, lalu penempatan penduduk. Pendekatan ini bertujuan agar penempatan menjadi hasil dari kesiapan ekonomi dan sosial, bukan langkah awal yang terpisah.

Kalau sekarang cari dulu potensi ekonominya lalu bangun industrinya. Kemudian siapkan lapangan pekerjaan serta pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, setelah itu baru dilakukan penempatan.

Implementasi TransTuntas dan manfaat ekonomi

Melalui TransTuntas, pemerintah mendorong lahan transmigrasi dimanfaatkan untuk berbagai sektor, termasuk pertanian, pertambangan, dan pariwisata. Menteri menegaskan model lama "bagi-bagi lahan" sudah usai; kini fokus pada kepemilikan bersama dan produktivitas ekonomi.

Era bagi-bagi lahan itu sudah selesai. Sekarang adalah bagaimana lahan itu dimiliki bersama untuk lebih produktif lagi dalam konteks ekonomi.

Dengan pola terintegrasi, Kementerian berharap kawasan transmigrasi menjadi motor penggerak ekonomi daerah dan penyumbang lapangan kerja berkualitas. Ke depan, pelaksanaan program akan dipantau secara berkala untuk memastikan sinkronisasi antarprogram dan dampak kesejahteraan bagi masyarakat transmigran.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait