Rupiah Melemah ke Rp17.721 per USD, Sentimen AS-Iran Tekan
Rupiah berbalik melemahRp17.721 per dolar AS, didorong oleh kombinasi tekanan geopolitik, data ekonomi AS, dan pelebaran defisit transaksi berjalan domestik.
Tekanan geopolitik: ancaman sanksi AS terhadap Iran
Sentimen eksternal menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Pelaku pasar merespons rencana AS untuk menerapkan paket sanksi keras terhadap Iran, setelah upaya militer tidak terealisasi. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut langkah AS sebagai sentimen negatif.
"AS menyatakan akan mengenakan rangkaian sanksi paling keras yang pernah ada terhadap Iran," ujar Ibrahim.
Ibrahim juga mengutip pernyataan pejabat AS tentang kemungkinan tindakan ekonomi tambahan terhadap Tehran. Menurutnya, ketegangan itu meningkat di wilayah Selat Hormuz dan sekitarnya, yang berdampak pada sentimen pasar regional.
Data ekonomi AS turut memengaruhi sentimen
Di samping geopolitik, indikator ekonomi AS memengaruhi ekspektasi pasar. S&P Global melaporkan purchasing managers index (PMI) sektor jasa AS naik ke 56,8, melampaui perkiraan 54. Namun PMI manufaktur melambat dari 53,9 menjadi 53,2, level terendah dalam lima bulan terakhir.
Perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran inflasi kembali naik akibat harga energi, yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga The Fed dan menekan aset berisiko termasuk mata uang negara berkembang.
Dampak domestik: pelebaran defisit transaksi berjalan
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar negatif merespons pelebaran defisit transaksi berjalan. Pada triwulan II 2026, defisit transaksi berjalan mencapai USD12,5 miliar atau 3,3 persen terhadap PDB, naik signifikan dari USD3,6 miliar (1 persen PDB) pada triwulan sebelumnya.
Meskipun demikian, neraca pembayaran Indonesia (NPI) tercatat masih relatif terjaga. Pada triwulan II 2026, NPI mengalami defisit sebesar USD900 juta, jauh menurun dibandingkan defisit USD9,1 miliar pada triwulan I 2026. Transaksi modal dan finansial mencatat surplus sekitar USD12 miliar pada triwulan II.
Posisi cadangan devisa juga tetap kuat hingga akhir Juni 2026, tercatat sebesar USD145,6 miliar.
Prospek: risiko berlanjut seiring harga minyak dan ketegangan geopolitik
Para analis memperingatkan defisit transaksi berjalan Indonesia berisiko berlanjut. Faktor pendorong meliputi harga minyak yang masih tinggi, volume impor minyak yang kuat, dan melemahnya ekspor karena perlambatan ekonomi global.
Selain itu, ketegangan antara AS, Iran dan aktor lain seperti Rusia-Ukraina berpotensi menambah volatilitas pasar ke depan. Pasar akan terus memantau perkembangan geopolitik dan data ekonomi sebagai penentu arah nilai tukar dalam jangka pendek.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Harga Emas Pegadaian 24 Agustus 2026: Galeri24 & UBS Naik
Harga emas Pegadaian (Galeri24 & UBS) menguat pada 24 Agustus 2026; Galeri24 naik Rp6.000 dan UBS naik Rp4.0...
DPR Minta Pemerintah Buka Basis Wajib Pajak untuk Amankan Target 2026
DPR minta pemerintah buat peta jalan perluasan basis wajib pajak untuk amankan target pajak APBN 2026 senila...
Rupiah Naik Tipis Awal Pekan, Dipicu Pelemahan Dolar
Rupiah dibuka menguat tipis ke Rp17.689 per dolar Senin 24 Agustus 2026, terdorong pelemahan dolar namun ter...
IHSG Diprediksi Menguat di Awal Pekan
IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan setelah ditutup di 6.525,69; investor diminta waspadai kenaikan yiel...
IAW: Keterbukaan Wajib jika Ada Transaksi 62% Saham BYAN
IAW minta keterbukaan dan penelusuran bukti jika rumor transaksi 62% saham BYAN benar-benar terjadi.
IHSG Diperkirakan Lanjutkan Penguatan pada Awal Pekan
IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan pada pembukaan pekan ini, didukung rupiah dan optimisme ekonomi namu...