Ekonomi

IHSG Diperkirakan Lanjutkan Penguatan pada Awal Pekan

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG dengan latar bursa saham Indonesia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia hari ini. Pada penutupan akhir pekan lalu, IHSG naik 0,37 persen ke level 6.525,69, didorong penguatan rupiah dan optimisme prospek ekonomi.

Kondisi pasar dan perkiraan pergerakan

Sentimen positif di akhir pekan mendorong naiknya indeks. Meski demikian, pasar tetap waspada terhadap sentimen negatif jangka pendek yang dapat menekan pergerakan saham tertentu.

Analisis teknikal dari Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak di rentang support dan resistansi. Menurut tim analis tersebut, level support di sekitar 6.500 dan resistansi di 6.700 akan menjadi acuan pergerakan hari ini.

"Utamanya terhadap saham-saham yang dikeluarkan dari rebalancing indeks FTSE Global Equity Index," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Senin, 24 Agustus 2026.

Faktor eksternal yang dominan

Phintraco menyoroti beberapa faktor eksternal yang hari ini lebih dominan memengaruhi sentimen investor. Pergerakan dan prospek suku bunga global serta imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang menjadi perhatian utama.

  • Peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang berlanjut.
  • Tingginya harga energi global dan pelebaran defisit anggaran AS.
  • Peningkatan penerbitan surat utang korporasi di AS.

Pantauan yield AS dan Simposium Jackson Hole

Yield US-Treasury terus naik, memperketat kondisi pasar global. Tenor 10 tahun tercatat naik sekitar 3 bps ke 4,73%, sementara tenor 30 tahun naik lebih dari 3 bps ke 5,27%. Kenaikan yield ini menjadi sinyal biaya pendanaan yang meningkat di pasar global.

Selain itu, investor akan mencermati Simposium Jackson Hole untuk mencari pandangan kebijakan moneter the Fed. Pasar berharap sinyal dari pertemuan tersebut dapat menjelaskan arah suku bunga dan menahan volatilitas imbal hasil obligasi.

Harga minyak dan prospek ekonomi

Harga minyak Brent bergerak stabil di kisaran USD94 per barel. Stabilitas harga ini muncul di tengah indikasi upaya meredakan ketegangan antara Iran dan AS, yang dapat menurunkan risiko gangguan pasokan energi.

Pergerakan harga energi dan kondisi fiskal AS diperkirakan masih akan menjadi variabel penting bagi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pantauan ketat terhadap sentimen eksternal dan perkembangan data domestik akan menentukan kelanjutan penguatan IHSG dalam beberapa hari ke depan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait