Bahlil Janji Permudah Perizinan untuk Percepat Pemanfaatan Panas Bumi
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Pemanfaatan panas bumi masih rendah
Menurut Bahlil, tantangan utama terletak pada kecepatan eksekusi dan regulasi. Kondisi ini membuat pemanfaatan lapangan panas bumi belum optimal meski potensi sangat besar. Data yang disampaikan menunjukkan sebagian besar cadangan belum dimanfaatkan, sehingga kapasitas aktual jauh di bawah potensi.
Kebijakan percepatan dan insentif
Untuk mengatasi hambatan itu, pemerintah berencana memangkas birokrasi perizinan dan memberi insentif konkret bagi pelaku usaha. Langkah ini dimaksudkan agar regulator dan pengembang bekerja selaras, mempercepat realisasi proyek di lapangan.
“Tantangan terbesar kita ada pada kecepatan eksekusi dan regulasi. Kita punya cadangan nomor satu dunia, tapi utilisasi masih nomor dua,”
“Pemerintah siap mempermudah perizinan. Dan memberikan insentif konkret agar kerja sama antara regulator dan pelaku usaha berjalan selaras,”
Beyond electricity: pemanfaatan non-kelistrikan
Pemerintah juga mendorong pemanfaatan geothermal untuk keperluan beyond electricity. Pemanfaatan non-kelistrikan ini meliputi pengeringan hasil pertanian seperti kopi hingga kebutuhan industri petrokimia.
“Kita juga mendorong optimalisasi potensi beyond electricity, mulai dari pengeringan hasil tani seperti kopi hingga kebutuhan industri Petrokimia. Guna mengunci target bauran energi nasional minimal 15% pada 2050 mendatang,”
Seruan industri: target 30 GW dan manfaat ekonomi
Presiden Asosiasi Panas Bumi Indonesia menekankan momentum satu abad panas bumi harus dipakai untuk akselerasi. Ia mengingatkan sekitar 88% cadangan panas bumi di Tanah Air belum termanfaatkan, sehingga kolaborasi pemerintah dan swasta menjadi kunci.
“Momentum 100 tahun ini harus menjadi landasan pacu untuk mempercepat eksekusi proyek di lapangan. Sebagai sumber baseload hijau yang andal 24/7, akselerasi panas bumi bukan hanya mengunci swasembada energi,”
“Akselerasi panas bumi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi hingga 8% melalui pengembangan ekosistem manufaktur dan rantai pasok lokal. Sinergi antara pemerintah, pengembang IPP, dan kepastian izin WKP baru adalah kunci merealisasikan target 30 GW,”
Percepatan proyek panas bumi di lapangan akan membutuhkan kebijakan yang konsisten dan kepastian investasi. Realisasi langkah pemerintah dan dukungan pelaku industri menjadi faktor penentu agar target bauran energi dan kapasitas tercapai dalam jangka menengah dan panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Warga Terdampak Gempa NTT Masih di Tenda, Bantuan Terbatas
Korban gempa NTT memilih tinggal di tenda; kebutuhan pangan, terpal, dan selimut mendesak sementara distribu...
Penasehat Khusus Presiden Datangi Jabatex Tuntut Pembayaran Pesangon
Said Iqbal datangi Jabatex Cibodas (24/8/2026) untuk mendorong pembayaran pesangon 459 buruh senilai Rp59 mi...
Kementerian PU Buru Teknologi Konversi Air Laut untuk Palue
Kementerian PU menjajaki kerja sama dengan BRIN untuk mengonversi air laut jadi air tawar sebagai solusi dar...
CIEIE 2026 di Jakarta Buka Peluang Usaha Indonesia-Tiongkok
CIEIE 2026 digelar 3-5 Sept di Jakarta untuk perkuat kerja sama ekonomi digital dan buka peluang bagi pelaku...
DPR: RUU Perampasan Aset Disusun untuk Cegah Kriminalisasi
DPR menegaskan RUU Perampasan Aset dibahas cermat untuk mencegah penyalahgunaan dan kriminalisasi; ditargetk...
Transmigrasi Dorong Investasi dan Produktivitas Lahan di Batam
Kementerian Transmigrasi alokasikan 300 hektare di Galang untuk galangan kapal, dorong investasi dan proyeks...