Pelantikan PAC Madiun Dimeriahkan Pencak Silat dan Tari Difabel
Atraksi pencak silat dan tari difabel memeriahkan pelantikan PAC PDI Perjuangan Kota Madiun, menghadirkan nuansa budaya dan inklusivitas.
MADIUN — Pelantikan Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se-Kota Madiun pada Minggu siang, 17 Mei 2026, dimeriahkan atraksi pencak silat dan pertunjukan tari oleh kelompok difabel. Acara di Aula DPC dihadiri ratusan kader dan tamu undangan dan menegaskan hubungan antara politik, budaya, dan pesan inklusivitas.
Pencak silat sebagai simbol persaudaraan
Atraksi pencak silat membuka rangkaian acara dan segera menjadi pusat perhatian. Para pesilat muda memperagakan jurus cepat, kombinasi teknik, dan atraksi berpasangan yang beberapa kali memancing tepuk tangan meriah.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Madiun, Sutardi, menjelaskan alasan menghadirkan pencak silat dalam prosesi pelantikan. Menurutnya, pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan identitas budaya dan simbol kebersamaan masyarakat Madiun.
"Pencak silat menjadi bagian budaya yang harus terus dijaga. Semangat persaudaraan dan kekompakan para pesilat juga harus menjadi semangat kader partai."
Beberapa kader bahkan berdiri untuk merekam penampilan dengan ponsel, menandakan antusiasme yang melampaui formalitas politik biasa.
Tari difabel: hening dan penghargaan terhadap kemampuan
Suasana paling menyentuh muncul saat kelompok difabel dari Yayasan Mutiara Hati menampilkan Tari Nawang Sekar. Para penari tuna rungu bergerak mengikuti irama yang tidak selalu mereka dengar, namun gerakan tetap selaras dan penuh penghayatan.
Penonton tampak terdiam, beberapa menyeka mata saat tarian usai dan tepuk tangan panjang mengakhiri penampilan.
"Saya benar-benar kagum. Mereka tidak mendengar musik pengiring karena tuna rungu, tetapi gerakannya tetap pas dan sesuai irama. Ini luar biasa,"
Kata-kata itu diucapkan Budi Sulistyono, Wakil Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, yang hadir dalam pelantikan.
Politik, budaya, dan konsolidasi akar rumput
Selain penguatan struktur partai hingga tingkat kecamatan, pelantikan kali ini menonjolkan upaya menghadirkan wajah politik yang lebih dekat dengan budaya dan masyarakat. Pertunjukan seni tradisional dan keterlibatan kelompok difabel menjadi penegas bahwa ruang politik bisa menjadi ruang apresiasi kebudayaan dan inklusivitas.
Calon pengurus dari tiga kecamatan mengikuti seluruh rangkaian dengan antusias, sementara nuansa merah partai berpadu hangat dengan atmosfer budaya lokal. Bagi kader senior, momen ini mengingatkan bahwa politik akar rumput lahir dari kedekatan dengan masyarakat dan tradisi sehari-hari.
Pelantikan di Aula DPC PDI Perjuangan Kota Madiun menunjukkan bahwa di tengah konsolidasi organisasi, budaya dan nilai kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan politik lokal.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPR Minta Pengusutan Tuntas Kekerasan Ibu terhadap Anak di Pamekasan
DPR minta polisi mengusut tuntas kasus kekerasan ibu terhadap anak di Pademawu, Pamekasan, termasuk pemeriks...
PDI Perjuangan: Perubahan APBD Sumenep Harus Pro Rakyat
Fraksi PDI Perjuangan minta Perubahan APBD Sumenep 2026 tetap berpihak pada rakyat meski PAD naik dan belanj...
Surabaya Minta Perlindungan untuk Pedagang Pasar Tradisional
DPRD Surabaya dan APPSI minta pemerintah lindungi pedagang pasar tradisional dari tekanan pasar modern, dari...
DPRD Jember Minta Pangkas Anggaran Rp2,8 Miliar untuk Stiker Bantuan
DPRD Jember minta Pemkab memangkas anggaran Rp2,8 miliar untuk stiker bantuan dan mengusulkan satu jenis sti...
Jaranan Hiasi Peringatan Kemerdekaan di Trenggalek
Ribuan warga menyaksikan pagelaran jaranan di halaman DPC PDI Perjuangan Trenggalek, 17 Agustus 2026, sebaga...
ASN Banyuwangi Berbagi daftarkan 1.144 pekerja informal ke BPJS
ASN Banyuwangi Berbagi mendaftarkan 1.144 pekerja informal ke BPJS Ketenagakerjaan pada 17 Agustus 2026 untu...