Pelabuhan Kijing Berpeluang Jadi Pintu Ekspor Utama Kalbar
Pelabuhan Internasional Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat berpotensi menjadi pintu utama ekspor komoditas daerah jika dioptimalkan. Demikian disampaikan akademisi dan praktisi ekonomi Muhammad Fahmi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Menurutnya, kombinasi posisi geografis, infrastruktur pelabuhan, serta konektivitas darat dan udara memberikan peluang besar bagi Kalbar menembus pasar internasional.
Potensi dan infrastruktur pendukung
Fahmi menilai Kalbar sudah memiliki fondasi infrastruktur yang kuat untuk perdagangan internasional. Saat ini terdapat empat Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang akan bertambah menjadi lima, Pelabuhan Internasional Kijing, dan jalur penerbangan internasional yang kembali dibuka.
Ia mengatakan kondisi itu membuat Kalbar relatif terbuka dan siap mendukung alur ekspor-impor yang lebih besar. Kalimantan juga dinilai memiliki keuntungan sumber daya alam yang luas dan posisi strategis di kawasan Asia Tenggara.
"Kalau melihat Kalbar ini memang sangat menjanjikan. Kenapa? Karena kita mempunyai pintu keluar yang internasional semua, darat, laut, dan udara,"
Kerja sama lintas negara sebagai pengungkit
Fahmi menyoroti hubungan yang sudah terjalin antara Kalbar dan Sarawak, Malaysia. Ia menilai kerja sama Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia (Sosek Malindo) perlu diperkuat dan diintensifkan untuk mempercepat arus barang dan investasi.
Selain Malaysia, Fahmi menyarankan pemanfaatan kerangka Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) untuk membuka akses pasar lebih luas. Ia menekankan bahwa regulasi sudah tersedia, tetapi eksekusi perlu dipermudah.
"Ini harus kita akselerasi, intensifikasi hubungan ini harus terjalin dengan baik,"
Perbandingan kapasitas dan implikasi ekonomi
Fahmi menyinggung peresmian ekspor perdana alumina di Pelabuhan Dwikora Pontianak oleh Staf Ahli Presiden Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman sebagai bukti potensi ekspor Kalbar. Ia menilai kegiatan itu menunjukkan komoditas daerah mampu menembus pasar internasional melalui pelabuhan lokal.
Menurut Fahmi, kapasitas Pelabuhan Dwikora disebut sekitar 300 ribu TEUs, sedangkan Pelabuhan Kijing mampu menampung hingga 2 juta TEUs. Perbedaan kapasitas ini membuka ruang signifikan untuk peningkatan volume dan diversifikasi komoditas ekspor Kalbar.
Langkah selanjutnya
Untuk merealisasikan peluang, Fahmi mengimbau percepatan kebijakan dan kemudahan operasional antarinstansi. Menurutnya, penerapan kebijakan ekspor satu pintu dan fasilitasi pelaksanaannya dapat memperkuat posisi tawar Kalbar di perdagangan internasional.
Jika langkah-langkah tersebut dijalankan, Pelabuhan Kijing berpeluang mengubah wajah perdagangan Kalbar dan mendorong wilayah itu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Geo Dipa: Potensi Panas Bumi Indonesia Baru 11% Tergarap
Geo Dipa: potensi panas bumi 24 GW, namun baru 11% (2,7 GW) tergarap; hambatan utama biaya tinggi, waktu pem...
BI: KLM Perkuat Pembiayaan Perumahan, Rp118 T Tersalurkan
BI menyatakan KLM mendukung pembiayaan perumahan; realisasi 1,32% setara Rp118 triliun disalurkan ke 111 ban...
DPR Soroti Usulan HIPMI Naikkan Plafon KUR Jadi Rp2 Miliar
DPR menyoroti usulan HIPMI naikkan plafon KUR menjadi Rp2 miliar untuk memperluas pembiayaan UMKM kelas mene...
IHSG Turun 3,28% Sepekan, BEI Sempurnakan Aturan Perdagangan
IHSG turun 3,28% pada 28 Sept-2 Okt 2026; BEI menyesuaikan batas harga, Auto Rejection, dan mulai terapkan s...
Dirjen Pajak Tak Khawatir Meski Pemerintah Rencanakan Kenaikan PTKP
Dirjen Pajak Bimo Wijayanto menyatakan tak terlalu khawatir meski pemerintah merencanakan kenaikan PTKP; ske...
BNI Perkuat Pelestarian Batik dan Dukung UMKM Perajin
BNI memperkuat pelestarian batik lewat kebijakan busana kerja, pelatihan, dan pameran untuk memperluas pasar...