Pedestrian Deck Dukuh Atas Pangkas Waktu Pejalan Kaki
Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas diproyeksikan memangkas waktu tempuh pejalan kaki sekaligus memperkuat konektivitas antarmoda di Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Proyek ini akan menghubungkan empat kuadran yang selama ini terpisah oleh Jalan Jenderal Sudirman, jalur rel, dan Kanal Banjir Barat. Struktur berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 100 meter dan berada pada ketinggian sekitar 8 meter itu ditargetkan rampung pada akhir 2028 dengan perkiraan biaya Rp300 miliar.
Permasalahan konektivitas dan tujuan proyek
Proyek dilatarbelakangi kondisi kawasan yang terfragmentasi sehingga mobilitas pejalan kaki menjadi tidak efisien. Untuk berpindah antarkuadran, pengguna kerap harus turun ke permukaan jalan dan memutar jarak jauh, yang menambah waktu perjalanan dan mengurangi kenyamanan.
Sebagai solusi, pedestrian deck dirancang sebagai pertemuan berbagai moda dan jalur pejalan kaki agar perpindahan antarmoda berlangsung lebih cepat dan lancar.
Desain dan alasan bentuk lingkaran
Desain pedestrian deck mengusung bentuk lingkaran untuk menjaga keselarasan visual koridor Sudirman–Thamrin. Bentuk ini dipilih agar selaras dengan elemen tata kota yang telah ada sejak awal pembangunan Jakarta, seperti pada kawasan Senayan, Simpang Semanggi, Bundaran HI, hingga Medan Merdeka.
Karena itu kami memilih bentuk lingkaran agar tetap menghormati konsep desain kota yang sudah dirancang sejak awal. Kalau dibuat dengan bentuk lain, dikhawatirkan akan mengganggu keselarasan visual kawasan
Konektivitas antarmoda
Pedestrian deck akan menjadi titik temu berbagai moda transportasi di Dukuh Atas. Fasilitas ini diproyeksikan menghubungkan secara langsung atau lebih dekat ke:
- MRT Jakarta
- KRL Commuter Line
- Kereta Bandara
- Transjakarta
- LRT Jabodebek
Dengan koneksi tersebut, perpindahan antarmoda diharapkan menjadi lebih seamless dan mengurangi waktu tunggu serta jarak berjalan.
Aksesibilitas dan fasilitas
Selain meningkatkan konektivitas, pedestrian deck dirancang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat termasuk penyandang disabilitas. Fasilitas yang akan disediakan meliputi elevator, eskalator, dan rancangan sesuai prinsip universal accessibility sehingga pengguna dapat berpindah antarmoda dengan aman dan nyaman.
Persetujuan dan jadwal
Konsep desain proyek telah mendapatkan persetujuan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pembangunan diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp300 miliar dan ditargetkan selesai pada akhir 2028.
Dengan penyelesaian proyek, diharapkan selain memangkas waktu tempuh pejalan kaki, pedestrian deck juga akan menghadirkan ruang publik baru yang nyaman, aman, dan inklusif. Peningkatan konektivitas ini berpotensi mendorong lebih banyak masyarakat beralih ke transportasi publik, sekaligus memperkuat tata kota koridor Sudirman–Thamrin.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Bhante Cittagutto: Peran Orang Tua Kunci Bentuk Generasi Penerus
Bhante Cittagutto menilai orang tua sebagai fondasi utama pembentuk generasi penerus untuk menjaga nilai kem...
Menag: Zikir Kebangsaan Perkuat Persatuan Menyambut HUT ke-81
Menag Nasaruddin Umar sebut Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas (1 Agustus 2026) memperkuat persatuan dan sema...
Pengabdian Guru Perintis di Pedalaman Papua dan Tantangannya
Bernarda Rurit mengangkat pengabdian guru perintis di pedalaman Papua dan Indonesia saat bedah buku, menyoro...
Peserta Banten Terkesan Doa Lintas Agama di Zikir Kebangsaan Monas
Peserta asal Banten terkesan dengan doa lintas agama saat Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas, Sabtu 1 Agustus...
Menag: Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Meningkat
Menag Nasaruddin Umar menyatakan Indeks Kerukunan Umat Beragama naik menjadi 77,89 pada 2025, capaian tertin...
UNJ Tegaskan Komitmen Kebangsaan lewat Partisipasi Pegawai
UNJ mengirim 10 pegawai mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas pada 1 Agustus 2026 guna memperkuat komi...