Nasional

Pasokan Gas Industri Turun 78%, Kemenperin Soroti Dampak

Bagikan:
Ilustrasi pasokan gas industri di area pabrik dengan pipa dan fasilitas produksi

Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier, menyampaikan pengurangan pasokan gas industri hingga 78 persen yang berdampak pada produksi dan daya saing perusahaan. Pernyataan itu disampaikan saat mendampingi kunjungan Komisi VII DPR RI ke PT M-Class Industry, Karawang, Jawa Barat, Jumat, 18 September 2026.

Pengurangan pasokan dan dampak langsung

Taufiek menyebut pengurangan pasokan gas menjadi keluhan berulang dari pelaku industri. Menurutnya, kondisi ini mulai memengaruhi operasional dan penyerapan tenaga kerja di beberapa perusahaan.

"Hari ini juga saya laporkan masalah gas lagi kembali ini, jadi dikurangin 78 persen. Jadi tadi banyak yang mengeluh ke kita dan surat-surat sudah numpuk,"

Beberapa perusahaan dilaporkan terpaksa mengurangi penggunaan mesin produksi. Taufiek memberi contoh bahwa mesin yang semula beroperasi tiga unit kini dipadamkan menjadi dua unit untuk menekan konsumsi gas.

"Banyak perusahaan-perusahaan yang sekarang ini sudah mesinnya yang tadinya tiga dimatikan jadi dua. Karena ini juga akan berdampak terhadap ekonomi kita,"

Kepastian pasokan dan harga gas

Taufiek menekankan bahwa kepastian pasokan dan harga gas yang kompetitif penting untuk menjaga competitiveness industri nasional. Ia meminta dukungan Komisi VII DPR RI untuk mendorong penyelesaian masalah ini bersama pihak terkait, termasuk Perusahaan Gas Negara (PGN).

"Saya cuma berpikir ini sampai kapan masalah ini kok berulang terus gitu loh. Jadi ini sangat menentukan competitiveness kita,"

Sekaligus, Taufiek berharap Komisi VII dapat memanggil pihak terkait agar akar masalah pasokan dapat diidentifikasi dan ditindaklanjuti.

Peluang industri genteng dan keterkaitan bahan baku

Selain isu energi, Taufiek menyoroti peluang industri genteng dalam mendukung program pemerintah pembangunan tiga juta rumah. Ia mendorong pemanfaatan produk dalam negeri agar program tidak bergantung pada impor.

"Jangan sampai nanti program ini diisi barang-barang impor, padahal ini sudah kita sudah kuat. Untuk mensuplai mereka semua, dan juga ini tenaga kerja di sektor ini cukup besar,"

Taufiek menjelaskan kandungan bahan baku lokal di industri genteng relatif tinggi. Namun, beberapa bahan pendukung seperti pewarna dan glasir masih bergantung pasokan impor.

Implikasi dan langkah ke depan

Kementerian Perindustrian menilai penguatan faktor input, termasuk stabilitas pasokan energi, akan membantu meningkatkan daya saing nasional. Pemerintah berjanji mendampingi industri agar dapat tumbuh dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Data yang dikemukakan menunjukkan bahwa sektor industri memiliki potensi kuat, tercermin dari pertumbuhan 8,8 persen pada kuartal kedua 2026. Namun, ketidakpastian pasokan gas berisiko menghambat momentum tersebut jika tidak segera ditangani.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait