Keberagaman Jadi Kekuatan, Pancasila Diminta Perkuat Persatuan
Gusti Ayu Putu Suwardani, Kepala BPSDM Hukum, menegaskan keberagaman adalah kekuatan bangsa dan Pancasila harus menjadi fondasi pemersatu. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi daring Merajut Kebersamaan pada Jumat malam, 29 Mei 2026. Ia meminta penguatan pemahaman Pancasila untuk menjaga harmoni dan persaudaraan di era digital.
Pancasila sebagai fondasi pemersatu
Menurut Suwardani, nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman penting menghadapi dinamika sosial saat ini. Penguatan pemahaman dinilai perlu agar persatuan bangsa tetap terjaga di tengah berbagai perubahan. Ia menekankan peran aktif Pancasila dalam membangun toleransi dan hubungan antarwarga negara.
Keberagaman ini bukan kelemahan, namun merupakan kekuatan bangsa. Di tengah kemajemukan tersebut, Pancasila harus hadir sebagai fondasi pemersatu bangsa
Akar sejarah toleransi Indonesia
Suwardani menjelaskan akar toleransi dan persatuan Indonesia tumbuh jauh sebelum Pancasila resmi menjadi dasar negara. Ia merujuk pada karya sastra Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular dari abad ke-14.
Kakawin itu melahirkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang mengajarkan pentingnya persatuan di tengah perbedaan. Menurutnya, nilai tersebut menjadi landasan kuat bagi kehidupan masyarakat yang majemuk.
Kalau kita bicara tentang sejarah, Pancasila sebenarnya DNA-nya sudah lahir sejak zaman Kerajaan Majapahit. Toleransi bukan sekadar warisan, tetapi memang DNA bangsa Indonesia yang hidup di dalam nilai-nilai Pancasila
Krisis nilai global dan peran Pancasila
Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej menambahkan bahwa penguatan kepercayaan sosial penting untuk merawat kehidupan bermasyarakat. Ia mengaitkan urgensi ini dengan temuan laporan UNESCO 2021 berjudul Imagining Our Futures Together.
Menurut Edward, laporan tersebut menunjukkan adanya krisis nilai global, termasuk normalisasi kekerasan, ketidaksetaraan, dan menurunnya rasa hormat. Ia menyatakan membangun kembali kepercayaan sosial adalah kunci untuk memulihkan dan merawat masyarakat sehat.
Kunci utama untuk memulihkan. Dan juga merawat masyarakat yang sehat adalah membangun kembali kepercayaan sosial
Untuk konteks lebih luas, laporan UNESCO dapat diakses melalui situs resmi UNESCO.
Implikasi dan langkah ke depan
Diskusi ini menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan identitas yang melekat dalam karakter masyarakat Indonesia. Penguatan pendidikan Pancasila dan pengembangan program pembangunan kepercayaan sosial dinilai perlu diperkuat oleh pemerintah dan masyarakat.
Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu, demikian kesimpulan yang mengikat kedua pembicara dalam acara tersebut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Hari ke-21 SAR KM Virgo: 188 Dievakuasi, 55 Masih Dicari
Hari ke-21 SAR KM Virgo: 188 korban dievakuasi (108 selamat, 80 meninggal), 55 orang masih dicari dari manif...
Basarnas Kerahkan 1.200 Personel SAR, Operasi KM Virgo Hari ke-21
Basarnas kerahkan lebih dari 1.200 personel SAR dalam operasi hari ke-21 untuk mencari korban KM Virgo Trans...
55 Korban Hilang, Basarnas Lanjutkan Operasi SAR KM Virgo
Basarnas melanjutkan operasi SAR KM Virgo pada hari ke-21 untuk mencari 55 korban hilang; operasi disesuaika...
Kalaksa BPBD Jatim: 90%+ Karhutla Dipicu Aktivitas Manusia
BPBD Jatim: lebih dari 90% karhutla dipicu aktivitas manusia; kelalaian kecil seperti puntung rokok bisa mem...
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...