Nasional

Kemenbud Resmikan Pameran Meriam Joseph L. Spartz di Jakarta

Bagikan:
Pameran meriam koleksi Joseph L. Spartz di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta

Kementerian Kebudayaan meresmikan Pameran Meriam Joseph L. Spartz pada Rabu, 20 Mei 2026, di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat. Pameran menampilkan 165 meriam hasil koleksi Joseph L. Spartz dan bertujuan meningkatkan edukasi serta literasi publik tentang sejarah perkembangan teknologi meriam di Nusantara.

Peresmian dan tujuan pameran

Peresmian dilakukan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Ia menyampaikan bahwa koleksi itu dihibahkan oleh keluarga almarhum Joseph L. Spartz kepada museum dan cagar budaya. Menbud menilai pameran penting untuk memperkaya wawasan publik tentang persenjataan dan teknologi militer.

"Meriam-meriam ini berasal dari berbagai zaman, mulai dari era Portugis, dan VOC. Hingga Hindia Belanda dengan variasi yang sangat unik,"

Koleksi: ragam, jumlah, dan penataan

Pameran menampilkan 165 koleksi meriam yang dikumpulkan Joseph selama puluhan tahun. Koleksi tersebut menggambarkan perubahan teknik pembuatan dan variasi bentuk meriam sepanjang sejarah di wilayah ini.

Menurut pihak museum, seluruh koleksi telah ditata khusus agar memberikan pengalaman edukatif dan kronologis bagi pengunjung. Penataan dirancang untuk memudahkan pengunjung memahami proses pembuatan, fungsi, dan transformasi desain meriam dari masa ke masa.

"Koleksi ini diharapkan dapat meningkatkan edukasi dan literasi masyarakat. Terutama mengenai proses pembuatan serta perkembangan bentuk meriam dari zaman ke zaman,"

Asal-usul kolektor

Joseph L. Spartz merupakan warga negara Luxemburg yang tertarik pada sejarah dan koleksi artefak kuno. Pengawas Museum dan Cagar Budaya, Tamalia Alisjahbana, memaparkan riwayat hidup Joseph serta hubungan emosionalnya dengan Indonesia.

"Dia memang menggemar membaca. Sampai akhir hidupnya banyak membaca mengenai sejarah dan budaya bangsa lain,"

Joseph lahir di Luxemburg pada 15 Agustus 1942. Usai menempuh pendidikan di Swiss, ia mengembangkan usaha dan lebih sering tinggal di kawasan Asia Tenggara, termasuk Singapura dan Indonesia. Menurut narasi museum, ia menetap di Indonesia lebih dari 40 tahun.

"Dia sangat jatuh cinta dengan Indonesia dan lebih dari 40 tahun menetap. Hobinya salah satu adalah mengumpulkan berbagai artefak bersejarah,"

Dampak dan harapan

Pihak Kementerian dan museum berharap pameran ini menjadi sumber belajar bagi pelajar, peneliti, dan masyarakat luas. Hibah koleksi dinilai sebagai kontribusi penting untuk pelestarian sejarah serta pengembangan kuratorial dan program edukasi museum.

Pameran sudah dibuka untuk umum di Museum Kebangkitan Nasional dan akan menjadi rujukan bagi studi sejarah persenjataan di Indonesia pada masa mendatang.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!