Perdami: Operasi Katarak Kunci Atasi Penyebab Kebutaan di Indonesia
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami)
Skala masalah dan rekomendasi WHO
Perdami menilai jumlah penderita katarak yang belum ditangani masih sangat besar. Kondisi ini membuat rasio operasi katarak di Indonesia belum mencapai standar internasional.
"WHO merekomendasikan minimal 3.000 operasi katarak per satu juta penduduk setiap tahun. Namun, hingga saat ini Indonesia baru mencapai sekitar 2.000 operasi per satu juta penduduk," ucap Dr. dr. Muhamad Rifqy Setyanto.
Pendekatan operatif menjadi solusi utama karena operasi katarak dapat memulihkan penglihatan. Pemulihan penglihatan berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan penurunan risiko kecelakaan.
Manfaat operasi katarak
Menurut Perdami, operasi katarak tidak hanya mengembalikan fungsi penglihatan. Operasi juga berdampak sosial-ekonomi yang signifikan karena dapat meningkatkan produktivitas pasien dan keluarganya.
"Operasi katarak mengembalikan penglihatan sekaligus meningkatkan produktivitas pasien dan keluarganya. Operasi juga mengurangi risiko kecelakaan serta membantu menekan angka kemiskinan secara tidak langsung," kata Dr. dr. Muhamad Rifqy Setyanto.
Dukungan Noor Dubai Foundation
Perdami menyampaikan dukungan dana dari Noor Dubai Foundation untuk memperluas layanan operasi katarak. Bantuan diberikan dalam dua tahap pendanaan sepanjang tahun ini.
Rincian program pendanaan adalah sebagai berikut:
- Tahap pertama: 500 operasi dilaksanakan sejak awal tahun hingga April, tersebar di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Tengah.
- Tahap kedua: Periode Juli hingga November direncanakan 500 operasi lagi, menyasar Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan.
Program ini bertujuan meningkatkan akses layanan bedah katarak di daerah-daerah yang kebutuhan layanannya tinggi.
Implikasi dan langkah ke depan
Kendati dukungan filantropi membantu menutup kesenjangan, Perdami menekankan perlunya upaya terpadu antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan organisasi masyarakat. Targetnya adalah mendekati atau memenuhi rekomendasi WHO untuk pencegahan kebutaan akibat katarak.
Percepatan pelatihan tenaga, peningkatan akses fasilitas operasi, dan kampanye deteksi dini menjadi langkah yang perlu diprioritaskan agar lebih banyak pasien mendapatkan pengobatan yang efektif.
Upaya kolaboratif ini dinilai krusial untuk menurunkan angka kebutaan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat jangka panjang.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Wardah Hadirkan Skin Longevity Clinic dengan Analisis Kulit Berbasis AI
Wardah membuka Skin Longevity Clinic di Ashta Jakarta (29 Sep–6 Okt 2026) menggabungkan edukasi, konsultasi...
Puskesmas Cibarusah Gencarkan Cek Kesehatan Anak Sekolah
Puskesmas Cibarusah intensifkan CKAS untuk SD, SMP, dan SMA/SMK sejak awal tahun ajaran guna deteksi dini da...
Hari Vegetarian: Jamur Sebagai Alternatif Daging Potensial
Pada Hari Vegetarian, jamur disorot sebagai alternatif daging karena tekstur dan rasa umami, namun masih ada...
Hari Kopi Internasional: Dampak Kopi pada Kesehatan Jantung
Konsumsi kopi berdampak pada jantung tergantung jumlah, jenis, dan penyajian; perhatian meningkat saat Hari...
Cara Terapkan Pola Makan Seimbang di Tengah Kesibukan
Kemenkes menganjurkan praktik pola makan seimbang dengan prinsip Isi Piringku: setengah piring sayur dan bua...
BPOM Pastikan Stok Antiviral Influenza A (H1N1) Cukup
BPOM menyatakan stok antiviral untuk influenza A (H1N1) mencukupi meski kasus meningkat; Kemenkes catat 1.52...