Cholil Nafis: NU Harus Padukan Ilmu, Akhlak, Sistem
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menegaskan Nahdlatul Ulama (NU) perlu menyinergikan ilmu, akhlak, dan sistem organisasi untuk menguatkan posisi NU dalam peradaban global. Pernyataan itu disampaikan pada 27 Agustus 2026 sebagai respons atas tantangan sosial dan budaya yang semakin kompleks.
Tiga watak yang harus bersinergi
Cholil memaparkan tiga watak yang mesti berjalan serentak dalam tubuh NU: ilmiyah, wasathiyah, dan tajdidiyah. Ketiganya, menurutnya, menjadi fondasi agar nilai-nilai pesantren dan tradisi Ahlussunnah tetap relevan dan efektif.
- Ilmiyah: menempatkan tradisi keilmuan sebagai dasar kebijakan dan tindakan.
- Wasathiyah: menjaga keseimbangan, moderasi, dan keadilan di tengah perbedaan.
- Tajdidiyah: semangat pembaruan agar ajaran Ahlussunnah terus responsif terhadap perubahan zaman.
Peradaban tidak dibangun hanya dengan kemajuan materi, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan sistem. Ilmu memberi arah dan kemampuan, akhlak memberi nilai dan kemuliaan, sedangkan sistem memastikan nilai dan ilmu itu bekerja secara teratur untuk kemaslahatan bersama.
Peran ilmu, akhlak, dan sistem
Cholil menjelaskan masing-masing elemen memiliki fungsi berbeda namun saling terkait. Ilmu memberi dasar rasional dan argumentasi syariat, akhlak memastikan penerapan nilai-nilai kemanusiaan, sedangkan sistem organisasi memastikan penerapan itu berjalan konsisten dan terukur.
Ia menekankan pentingnya data dan pengetahuan dalam setiap langkah NU agar kebijakan dan program organisasi berdasar analisis yang kuat. Sikap moderat diperlukan untuk meredam polarisasi dan menjaga kohesi sosial.
Peradaban yang kuat bukan sekadar mewarisi masa lalu, tetapi memahami warisan dengan ilmu. Menjaganya dengan sikap wasathiyah, dan mengembangkannya melalui tajdid.
Implikasi bagi posisi NU dalam peradaban global
Menurut Cholil, perpaduan nilai itu menentukan daya saing NU di kancah global. Dengan ilmu, sebuah komunitas mengetahui kebenaran; dengan akhlak, kebenaran itu diamalkan; dan dengan sistem, kebenaran ditegakkan secara berkelanjutan.
Langkah konkret yang direkomendasikan meliputi penguatan pendidikan keagamaan berbasis riset, pembinaan akhlak yang relevan dengan konteks sosial, dan pembaruan tata kelola organisasi agar lebih responsif dan efisien.
Dengan sinergi tersebut, NU diharapkan tidak hanya menjadi pewaris tradisi, tetapi juga penggerak peradaban yang adaptif dan bermartabat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...