Nasional

Kader Senior NU Tekankan Netralitas Menjelang Muktamar PBNU

Bagikan:
Abdul Hamid Rahayaan mendesak netralitas dalam Muktamar PBNU untuk menjaga persatuan NU

Abdul Hamid Rahayaan, kader senior Nahdlatul Ulama (NU), meminta agar pemilihan dalam Muktamar PBNU berjalan netral dan bebas dari pengaruh politik praktis. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 26 Juli 2026, saat ia mengungkapkan kekhawatiran terhadap dinamika yang muncul menjelang forum organisasi tersebut.

Kekhawatiran menjelang Muktamar

Hamid menyatakan prihatin atas perkembangan menjelang muktamar. Ia menilai independensi organisasi menjadi kunci untuk menjaga persatuan warga Nahdliyin.

Menurutnya, proses pemilihan harus adil dan mengutamakan kepentingan organisasi, bukan kepentingan individu atau partai.

Imbauan untuk tokoh dan peserta

Hamid secara langsung mengimbau beberapa figur agar bersikap fair dalam proses pemilihan. Ia menyinggung nama-nama seperti Kyai Miftach, Gus Yahya, Saifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa.

"Sebagai warga Nahdliyin yang sudah 25 tahun mengabdi, saya sangat prihatin melihat kondisi NU saat ini. Saya mengimbau kepada Kyai Miftach, Gus Yahya, Saifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa untuk bersikap fair,"

Hamid juga menegaskan bahwa jika benar mencintai NU, beberapa pihak sebaiknya tidak mencalonkan diri lagi agar tidak memicu perpecahan.

Tolak politik praktis

Selain imbauan kepada tokoh, Hamid mengingatkan seluruh pihak agar menjaga Muktamar dari kepentingan politik praktis. Ia menekankan bahwa NU perlu tetap berdiri sebagai organisasi keagamaan yang independen.

"Serahkan NU kepada orang-orang yang netral dan tidak terikat dengan partai politik untuk mengendalikan organisasi ini. Kita tidak ingin NU dibawa ke politik praktis," ujarnya.

Ia meminta tokoh politik menghormati proses internal NU dan tidak mencoba memengaruhi hasil pemilihan demi kepentingan partai.

Kriteria pemimpin yang diharapkan

Hamid menjelaskan bahwa pemimpin mendatang harus memiliki rekam jejak kepemimpinan yang kuat dan diterima luas oleh warga NU, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ia menyebut dua nama yang menurutnya memenuhi kriteria tersebut: Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar dan KH Marsudi Syuhud. Menurut Hamid, keduanya memiliki kapasitas manajerial dan pengalaman panjang tanpa keterikatan yang jelas pada kepentingan politik praktis.

Ajakan kepada pengurus wilayah dan cabang

Menjelang muktamar, Hamid mengimbau pengurus wilayah dan cabang NU menggunakan hak pilih secara hati-hati. Ia berharap peserta memilih figur yang mampu meredam konflik internal dan menjaga persatuan organisasi.

"Saya mengimbau seluruh peserta Muktamar dari wilayah dan cabang di seluruh Indonesia agar sangat berhati-hati dalam memilih figur pemimpin. Jika kita ingin keluar dari polemik dan konflik internal, pilihlah figur yang netral," ucapnya.

Hamid menutup pernyataannya dengan harapan agar Muktamar PBNU menjadi momentum untuk memperkuat soliditas organisasi. Ia menilai kepemimpinan yang independen akan membantu NU tetap fokus pada peran keagamaan, sosial, dan kebangsaan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait