Ekonomi

BI: Neraca Pembayaran Triwulan II 2026 Defisit USD900 Juta

Bagikan:
Grafik Neraca Pembayaran Indonesia dan cadangan devisa triwulan II 2026

Bank Indonesia (BI) mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 mengalami defisit sebesar USD900 juta, menurun drastis dari defisit triwulan I 2026 yang mencapai USD9,1 miliar. Catatan BI menunjukkan defisit transaksi berjalan yang masih ada dipengaruhi oleh faktor-faktor temporer seperti kenaikan impor migas dan pertumbuhan impor nonmigas.

Angka utama dan posisi cadangan devisa

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tercatat USD145,6 miliar. Cadangan ini setara dengan pembiayaan sekitar 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan bila dihitung termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Level tersebut juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Penyebab defisit transaksi berjalan

BI menjelaskan beberapa faktor yang mendorong defisit transaksi berjalan. Pertama, defisit pada neraca perdagangan migas meningkat sejalan dengan kenaikan impor minyak akibat tingginya harga minyak dunia. Kedua, surplus neraca perdagangan nonmigas menyusut karena impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi domestik masih tinggi.

Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer, sementara surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibanding triwulan I 2026.

Transaksi berjalan mencatat defisit didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas

Surplus transaksi modal dan finansial

Di sisi lain, transaksi modal dan finansial tercatat surplus USD12,0 miliar pada triwulan II 2026. Surplus ini didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan aliran investasi portofolio.

Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya, didorong oleh persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik. Sementara itu, surplus investasi portofolio meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik.

Dengan kondisi tersebut, transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat defisit sebesar USD12,5 miliar atau 3,3 persen dari PDB, lebih lebar dibanding triwulan I yang defisit USD3,6 miliar atau 1,0 persen dari PDB.

Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar USD12,5 miliar atau 3,3 persen dari PDB

Prospek NPI ke depan

BI memprakirakan prospek NPI tetap mendukung ketahanan eksternal. Perbaikan prospek ekspor diperkirakan membantu menurunkan defisit transaksi berjalan, terutama seiring kenaikan harga komoditas global dan potensi penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat yang berdampak pada ekspor Indonesia.

Transaksi modal dan finansial juga diperkirakan tetap surplus, ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing karena imbal hasil domestik yang menarik dan prospek ekonomi yang positif.

Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026. Mengingat kondisi ketidakpastian global yang masih tinggi

Secara keseluruhan, BI menilai kinerja NPI pada triwulan II 2026 lebih terjaga dengan cadangan devisa yang kuat, meski tekanan pada transaksi berjalan perlu diawasi hingga faktor-faktor temporer mereda.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait