Politik

Dari Sumenep ke Jakarta, Pemuda Bawa Semangat di Merah Muda Fest

Bagikan:

Jakarta — Mohammad Rafiq, kader muda asal Sumenep, bergabung dengan sekitar 500 pemuda dalam Napak Tilas Merah Muda Fest 2026 di ibu kota pada Minggu, 25 Oktober 2026. Mereka menempuh rute bersejarah dari Museum Sumpah Pemuda menuju Lapangan Banteng untuk merayakan persatuan sekaligus bertukar gagasan dan membawa cerita dari tanah Madura.

Perjalanan bermakna bagi peserta

Perjalanan Rafiq bukan sekadar fisik. Bagi dia, napak tilas menjadi momen bertemu pengalaman, kegelisahan, dan ide berbeda tentang masa depan Indonesia. Kegiatan itu membuka ruang diskusi antarwilayah dan generasi.

"Dari Sumenep ke ibu kota bukan sekadar tentang menempuh perjalanan, tetapi tentang membawa semangat, harapan, dan cerita dari tanah Madura menuju ruang perjumpaan yang lebih luas," ungkap Rafiq, Senin (26/10/2026).

Rafiq menilai Merah Muda Fest 2026 lebih dari sekadar acara seremonial. Festival ini menurutnya adalah forum untuk memperluas perspektif dan menemukan energi baru di kalangan pemuda.

"Merah Muda Fest 2026 bukan hanya tentang hadir dan meramaikan acara, tetapi juga tentang merayakan gagasan, memperluas perspektif, dan bertemu dengan energi-energi baru yang menginspirasi," lanjutnya.

Isu sosial yang diangkat

Dalam perbincangan sepanjang acara, para peserta mengangkat berbagai persoalan nasional yang butuh perhatian bersama. Rafiq menekankan bahwa kecintaan kepada bangsa harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan.

  • Akses pendidikan yang belum merata
  • Korupsi dan integritas penyelenggaraan negara
  • Kerusakan lingkungan dan dampak bencana

Ia menegaskan generasi muda tidak boleh abai. Menurut Rafiq, mereka harus berani menyuarakan aspirasi dan ikut mendorong perubahan kebijakan yang berpihak pada rakyat.

Rute napak tilas dan konteks sejarah

Napak tilas dimulai di Museum Sumpah Pemuda, melewati Gereja Katedral Jakarta, dan berakhir di Lapangan Banteng. Rute ini sengaja memilih lokasi-lokasi yang sarat makna kebangsaan.

Nilai-nilai yang tercetus pada Sumpah Pemuda 1928—berbangsa satu, berbahasa satu, bertanah air satu—diangkat kembali sebagai pengingat bahwa persatuan harus terus dirawat melalui tindakan.

"Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selesai ketika sebuah ikrar diucapkan. Persatuan harus dirawat dan diwujudkan dalam tindakan," ujarnya.

Penutup: Dari perjumpaan ke tindakan

Bagi Rafiq, perjalanan dari Sumenep ke Jakarta menghasilkan perluasan ruang pandang tentang persatuan dan kepedulian sosial. Dia pulang membawa inspirasi untuk terlibat lebih aktif di daerahnya.

Semangat merawat pertiwi, menurutnya, bukan tugas yang berakhir setelah acara. Itu menuntut keberanian mendengarkan, menyuarakan, dan bertindak untuk perbaikan berkelanjutan.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait