Politik

Gen Z Bukan Apolitis, Tapi Sulit Masuk Partai Politik

Bagikan:
Diskusi Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta

JAKARTA — Generasi Z dinilai bukan generasi apolitis, tetapi keterlibatan mereka dalam partai politik masih terkendala sistem dan mekanisme internal. Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (25/10/2026) malam.

Partai politik seharusnya ruang pendidikan politik

Banu Lesmana Bagaskara, Ketua DPN Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), menekankan bahwa partai politik tidak boleh berfungsi hanya sebagai kendaraan elektoral. Menurutnya, partai memiliki peran penting sebagai ruang pendidikan politik dan tempat masyarakat belajar berkontribusi dalam kebijakan publik.

"Gen Z bukan generasi apolitis. Mereka kritis terhadap isu politik, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan. Namun, sayangnya, sistem hari ini membuat anak muda sulit bergabung dengan partai politik,"

Banu menambahkan bahwa stigma "organisasi lima tahun sekali" harus diluruskan. Partai yang berfungsi sebagai pendidikan politik akan membuka akses partisipasi yang berkelanjutan bagi kalangan muda.

"Organisasi partai politik sering kali dicap sebagai organisasi lima tahun sekali. Berita baiknya, partai politik memiliki fungsi pendidikan politik,"

Hambatan praktis bagi keterlibatan anak muda

Diskusi menyorot beberapa hambatan yang membuat minat politik anak muda sulit bertransformasi menjadi keterlibatan aktif. Hambatan tersebut berupa mekanisme rekrutmen yang tertutup, kurangnya ruang pengambilan keputusan, dan minimnya pendidikan politik yang aplikatif.

Banu menyebutkan bahwa diperlukan saluran yang membuat kepedulian sosial anak muda berkembang menjadi peran nyata dalam organisasi politik. Di Repdem, misalnya, ada pelatihan advokasi dan keterlibatan dalam proses penyusunan kebijakan.

"Di Repdem kita belajar mengadvokasi masyarakat dan mengambil peran untuk turut serta berkontribusi dalam proses pengambilan kebijakan,"

Keberpihakan nyata: tuntutan kader muda

Yolanda Aprillia Pradhita, kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur sekaligus anggota Repdem, menegaskan bahwa politik harus lahir dari kepedulian pada persoalan konkret masyarakat. Ia menyoroti perlunya keberpihakan nyata kepada wong cilik lewat kerja langsung, bukan sekadar retorika.

"Politik seharusnya hadir ketika rakyat menghadapi kesulitan, bukan hanya ketika suara mereka dibutuhkan. Keberpihakan kepada wong cilik harus terlihat dari kerja nyata: mendengar persoalan masyarakat, mengorganisasi kekuatan rakyat, mengawal kebijakan, dan memperjuangkan agar suara mereka ikut menentukan keputusan,"

Yolanda menambahkan bahwa pendidikan politik harus memberi ruang bagi anak muda untuk berpikir kritis, belajar mengorganisasi, dan menjadi pelaku perubahan, bukan hanya peserta acara atau pelengkap organisasi.

"Anak muda jangan hanya diajak datang dan meramaikan kegiatan politik. Mereka perlu diberi ruang untuk berpikir kritis, belajar mengorganisasi masyarakat, dan terlibat dalam perjuangan nyata,"

Menuju partisipasi bermakna

Diskusi di Merah Muda Fest 2026 menggarisbawahi kebutuhan memperluas saluran partisipasi politik bagi generasi muda. Keterlibatan tidak cukup diukur dari jumlah peserta acara atau anggota baru, melainkan dari kemampuan anak muda menyampaikan gagasan, melakukan advokasi, dan mengawal kebijakan.

Jika partai politik menjalankan fungsi pendidikan dan membuka ruang pengambilan keputusan, peluang Gen Z berkontribusi dalam demokrasi akan meningkat secara nyata.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait