Museum Passport Ludes, Menbud Soroti Minat Gen Z pada Benda Budaya
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan museum passport produksi pemerintah terjual habis setelah 20.000 eksemplar dipasarkan. Pernyataan itu disampaikan saat perjalanan menuju Jakarta dari Batang, Jawa Tengah, pada Kamis, 30 Juli 2026. Ia menilai tren itu menunjukkan meningkatnya minat generasi muda—khususnya Gen Z—terhadap benda budaya fisik.
Penjualan dan angka
Menurut Fadli Zon, semua museum passport yang dijual seharga Rp89.000 per unit langsung habis. Produksi mencapai 20.000 buah dan ludes tanpa sisa. Hal ini menjadi indikator respon publik terhadap inisiatif penguatan warisan budaya.
"Kita membuat misalnya kemarin museum passport aja, itu sekarang 20.000, padahal dijual. Satu museum passport itu Rp89.000, itu langsung habis," ujar Fadli Zon.
Alasan Gen Z tertarik
Fadli Zon menjelaskan Gen Z yang selama ini dikenal sebagai digital native kini juga mencari pengalaman nyata. Benda budaya yang bersifat fisik memberi sensasi berbeda: bisa dipegang, dirasakan, dan dikoleksi.
"Gen Z ini sekarang suka dengan material culture, karena mungkin mereka ini tadinya digital native. Sehingga sesuatu yang berbentuk, yang bisa dipegang, yang dirasa dan dikoleksi itu menjadi penting," katanya.
Fungsi Museum Passport
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan museum passport berfungsi sebagai kenang-kenangan sekaligus alat pengingat warisan budaya. Produk ini dimaksudkan untuk mengajak pengunjung mengenal kembali sejarah lewat koleksi yang mudah dibawa dan dikumpulkan.
"Sebenarnya ini sebagai bagian dari semangat warisan budaya kita. Ada beberapa museum di seluruh Nusantara sudah kita masukkan," kata Indira Estiyanti Nurjadin.
Ketersediaan dan distribusi
Indira menambahkan museum passport akan tersedia di beberapa titik distribusi. Pengunjung dapat memperoleh produk ini di IHA shop, museum shop, dan beberapa toko buku di Indonesia. Langkah ini diharapkan meningkatkan kunjungan serta memperluas akses masyarakat terhadap koleksi museum.
Implikasi
Respons cepat terhadap museum passport memberi sinyal bahwa strategi fisik berbasis koleksi bisa melengkapi program digital kebudayaan. Jika tren ini berlanjut, museum dan pihak terkait perlu menyiapkan stok, pengalaman kunjungan, dan program edukasi yang lebih menarik bagi generasi muda.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...