Museum Marsinah: Jejak Perjuangan Buruh di Nganjuk
Presiden Prabowo Subianto meninjau Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, untuk melihat langsung kamar dan barang pribadi Marsinah, buruh yang dikenang karena keberanian memperjuangkan hak pekerja. Kunjungan berlangsung di ruang yang dipertahankan sejak peristiwa tragis itu, sekaligus mengingatkan publik pada pentingnya keadilan bagi buruh.
Kunjungan dan suasana museum
Prabowo berhenti di sebuah kamar berdinding triplek cokelat yang menyimpan ranjang sederhana dan kelambu tua. Ruangan itu dibiarkan utuh agar pengunjung merasakan kehidupan sehari-hari Marsinah. Presiden menatap setiap sudut kamar yang sengaja tidak diubah sejak dahulu.
Koleksi dan dokumen pribadi
Di ruang lain, barang-barang pribadi Marsinah tersusun rapi di lemari kaca. Pengunjung dapat melihat seragam pabrik, tas, dompet, hingga sepeda ontel yang biasa digunakannya.
Dokumen pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah terpajang bersama foto-foto lama yang merekam perjalanan hidupnya sejak kanak-kanak. Potongan artikel koran lama juga dipajang, mengingatkan publik pada peristiwa tewasnya Marsinah saat memperjuangkan hak buruh.
Kisah hidup dan perjuangan
Andi Gani Nena, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), mendampingi Prabowo dan menjelaskan riwayat hidup Marsinah sepanjang peninjauan. Menurut Andi, Marsinah bekerja di pabrik arloji di Sidoarjo dan setiap hari mengayuh sepeda menuju tempat kerja.
"Baju terakhir Bu Marsinah masih tersimpan lengkap bersama tasnya. Beliau anggota KSPSI saat bekerja di Sidoarjo,"
"Beliau memperjuangkan uang lembur dan jaminan kesehatan. Pemikirannya maju untuk ukuran buruh masa itu,"
Pembangunan museum dan akses publik
Museum dan rumah singgah ini dibangun hanya dalam waktu empat bulan oleh para buruh. Seluruh biaya pembangunan bersumber dari iuran anggota, tanpa menggunakan dana APBN. Rumah singgah juga menampung makam Marsinah dan terbuka untuk ziarah umum tanpa biaya masuk.
Reaksi Presiden dan implikasi
Usai melihat koleksi dan ruangan aslinya, Presiden Prabowo menyatakan keprihatinan atas tragedi yang menimpa Marsinah. Ia menilai peristiwa tersebut menjadi pengingat penting agar keserakahan demi keuntungan tidak mengabaikan hak pekerja.
"Saya prihatin melihat kisah perjuangan beliau yang tragis. Keserakahan demi keuntungan besar tidak boleh terulang,"
Kunjungan ini menempatkan Museum Marsinah sebagai monumen penting dalam catatan sejarah perburuhan Indonesia. Selain mengabadikan memoriam Marsinah, museum juga menjadi ruang edukasi tentang upaya memperjuangkan kesejahteraan pekerja melalui perundingan dan dialog.
Berita Terkait
RUU Masyarakat Adat Resmi Disampaikan ke DPR
Pemerintah resmi menyerahkan RUU Masyarakat Adat ke DPR, menekankan pengakuan, perlindungan, dan pelestarian...
Indonesia Perluas Diplomasi Pendidikan ke Afrika Tengah
Indonesia mengunjungi University of Yaounde I pada 29 April 2025 untuk menjajaki kerja sama pendidikan, rise...
Prabowo: Megawati Pernah Bantu Saat Saya Menang Tender
Prabowo menyebut Megawati pernah intervensi agar kemenangannya dalam tender tidak diganggu; disampaikan di S...
Kemenperin Tegaskan Galon Guna Ulang Aman, Diawasi Ketat
Kemenperin pastikan galon guna ulang AMDK aman lewat SNI, sanitasi wajib, dan audit berkala sesuai Permenper...
BPOM Klarifikasi: Aturan Baru Fokus Awasi Pengelolaan Obat di Ritel
BPOM klarifikasi PerBPOM 5/2026: aturan fokus pada pengelolaan dan pengawasan obat bebas, bukan kewajiban pe...
Pemerintah Bentuk BUMN Khusus untuk Ekspor SDA
Pemerintah membentuk BUMN khusus ekspor untuk mengawasi komoditas strategis dan menekan praktik under-invoic...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!