Arjan: Pengaruh Multatuli pada Buku tentang Lebak dan Kolonialisme
Arjan Onderdenwijngaard menyatakan bahwa gaya penulisan Multatuli menjadi pengaruh utama saat ia menyusun buku tentang Lebak dan kolonialisme. Pernyataan itu disampaikan saat peluncuran After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism di Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan, Kamis malam, 13 Agustus 2026. Menurut Arjan, teknik penceritaan Multatuli yang tidak linear memberi sudut pandang berlapis pada narasi sejarah.
Pengaruh gaya penceritaan Multatuli
Arjan menjelaskan, Multatuli memakai pendekatan naratif yang menghadirkan beberapa sudut pandang. Teknik itu membuat pembaca menangkap peristiwa dari perspektif berbeda. Gaya ini, kata Arjan, menjadi inspirasi penulis-penulis di Indonesia dan Belanda untuk membuat narasi yang lebih berlapis dan menarik.
"Multatuli memiliki tiga wajah atau tokoh dalam bukunya, dan salah satunya adalah dirinya sendiri dalam cerita tersebut secara langsung,"
Dalam penjelasan Arjan, penerapan tiga wajah dalam tokoh memungkinkan penggabungan pengalaman pribadi, observasi administrasi, dan citra sastra. Cara ini membuat alur tidak bergerak secara linier, melainkan bergeser antar sudut pandang.
Posisi Multatuli terhadap kolonialisme
Arjan juga meluruskan persepsi bahwa Multatuli sepenuhnya seorang anti-kolonial. Ia menegaskan bahwa Multatuli lebih tepat digolongkan sebagai figur kolonial yang kritis terhadap praktik pemerintahan.
"Multatuli bukan anti-kolonial, tetapi seorang kolonial yang tercerahkan karena berharap sistem kolonial bisa berjalan lebih baik dan adil,"
Dengan kata lain, Multatuli tidak menyerang kolonialisme secara total, melainkan mengkritik penyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan dari dalam sistem itu sendiri.
Kisah Max Havelaar dan pengalaman di Lebak
Arjan menyoroti pengalaman Multatuli sebagai asisten residen di Lebak sebagai sumber utama kritiknya pada praktik penguasa. Ia menyebut beberapa bagian karya Multatuli berangkat dari fakta lapangan, meski juga dibentuk lewat penggambaran sastra.
Salah satu contoh yang disinggung adalah kisah Saijah dan Adinda, yang menjadi simbol penderitaan rakyat kecil akibat praktik penguasa pada masa itu. Arjan menerangkan bahwa Multatuli pernah mengajukan protes hingga ke level pemerintahan tertinggi, namun tidak ditindaklanjuti.
"Ia menulis Max Havelaar dalam waktu singkat, sekitar tiga minggu, lalu buku tersebut terbit di Belanda pada 1860,"
Setelah resign dari jabatan pemerintahan, Multatuli pulang ke Eropa dalam kondisi ekonomi terbatas dan kemudian menulis karya yang sampai kini menjadi rujukan tentang praktik kolonialisme.
Implikasi dan prospek
Menurut Arjan, penerapan pendekatan Multatuli membuka ruang bagi penulisan sejarah yang lebih dinamis dan reflektif. Buku terbaru ini mencoba menghadirkan kembali lapisan-lapisan pengalaman masyarakat Lebak dalam konteks kolonialisme dan feodalisme lokal.
Peluncuran buku di Jakarta menjadi momen untuk mengulas kembali hubungan narasi sastra dan dokumen sejarah, serta bagaimana teknik penceritaan dapat memengaruhi pemahaman publik terhadap masa lalu.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...