Syngenta Luncurkan MIRAVIS Duo untuk Perkuat Karawang sebagai Lumbung Padi
Syngenta Indonesia meluncurkan fungisida baru MIRAVIS Duo® di Learning Development Center (LDC) Karawang, Jawa Barat, pada 9 Juni 2026. Peluncuran bertujuan membantu petani mempertahankan produktivitas dan kualitas panen di tengah tekanan alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan serangan organisme pengganggu.
Peluncuran dan tujuan
Peluncuran di Karawang menegaskan posisi daerah itu sebagai salah satu lumbung padi nasional. Syngenta menghadirkan produk dengan teknologi ADEPIDYN™ untuk meningkatkan perlindungan tanaman padi terhadap penyakit.
Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menekankan komitmen perusahaan mendukung ketahanan pangan melalui inovasi.
"Karawang adalah simbol ketahanan pangan nasional, dan melalui peluncuran MIRAVIS Duo® kami ingin mendukung petani menjaga produktivitas. Sekaligus, kualitas panen di tengah tantangan iklim dan alih fungsi lahan."
Data produksi dan tantangan Karawang
Karawang tercatat sebagai salah satu penghasil padi terbesar di Indonesia. Pada 2025, produksi daerah ini mencapai 1.194.711 ton Gabah Kering Giling (GKG), posisi kedua terbesar di Jawa Barat setelah Indramayu.
Produktivitas rata-rata berada pada kisaran 5,9–6 ton per hektare. Namun beberapa lokasi dengan irigasi teknis dan varietas unggul mampu mencapai 7–8 ton per hektare.
Teknologi dan klaim produk
Syngenta menyatakan MIRAVIS Duo® memberikan perlindungan konsisten terhadap penyakit padi berkat ADEPIDYN™. Produk juga diklaim cepat diserap tanaman dan bekerja merata.
- Penyerapan tanaman: sekitar 6 jam
- Periode perlindungan: hingga 14 hari setelah aplikasi
- Mendukung daun bendera tetap hijau dan bersih untuk fotosintesis optimal
Respons petani dan pemerintah daerah
Pemerintah Kabupaten Karawang menyambut baik hadirnya inovasi tersebut. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang, Rohman, menyampaikan data luas lahan pertanian setempat.
"Karawang memiliki sekitar 99 ribu hektare lahan pertanian. Dari jumlah tersebut, sekitar 86 ribu hektare telah masuk kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kehadiran MIRAVIS Duo® akan membantu memperkuat kualitas sekaligus kuantitas produksi padi Karawang,"
Peluncuran dihadiri sekitar 650 petani yang melihat langsung lahan percontohan penggunaan produk. Beberapa petani melaporkan perbaikan kondisi tanaman dan peningkatan hasil panen setelah penggunaan pada musim tanam sebelumnya.
"Hasilnya gabah sehat berkilau. Selain itu, daun bendera lebih hijau dan bersih, dan produksi meningkat,"
Dampak dan rencana ke depan
Syngenta menyatakan peluncuran di Karawang bagian dari visi Petani MAJU yang mendorong peningkatan hasil, percepatan adopsi teknologi, dan kolaborasi pertanian berkelanjutan. Perusahaan berencana memperkenalkan MIRAVIS Duo® di sentra produksi padi lain untuk mendukung upaya swasembada beras.
Langkah ini diharapkan membantu menjaga kuantitas dan kualitas produksi padi nasional meski tantangan lahan dan iklim terus berlangsung.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...