Mikroplastik Mengancam Ekosistem Laut dan Keamanan Pangan
Mikroplastik kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut dan keamanan pangan. Pernyataan itu disampaikan Muhammad Reza Cordova pada Webinar ISOI, Sabtu, 9 Mei 2026, yang membahas bagaimana partikel plastik ukuran kecil menyebar dari daratan ke laut, udara, dan akhirnya masuk ke rantai makanan manusia.
Produksi plastik dan proses fragmentasi
Produksi plastik global terus meningkat setiap tahun. Pada 2022, produksi plastik dunia mencapai sekitar 460 juta ton, dan banyak limbahnya belum dikelola dengan baik sehingga berakhir di lingkungan perairan.
Plastik tidak benar-benar terurai menjadi bahan organik. Plastik hanya terfragmentasi menjadi partikel lebih kecil hingga menjadi mikroplastik dan nanoplastik, sehingga pencemarannya semakin sulit dikendalikan.
Definisi dan jenis mikroplastik
Menurut Prof. Reza, mikroplastik didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Ia membagi mikroplastik menjadi dua jenis utama.
"Mikroplastik primer diproduksi dalam ukuran kecil sejak awal, seperti pelet plastik dan bahan pada produk kosmetik. Sementara mikroplastik sekunder berasal dari pecahan plastik berukuran lebih besar akibat paparan sinar matahari, gelombang, dan proses degradasi lainnya," jelas Prof. Reza.
Sumber dan jalur penyebaran
Sumber mikroplastik berasal dari berbagai aktivitas manusia. Profesor Reza menjelaskan partikel-partikel ini terbawa ke laut melalui sungai, saluran air limbah, dan bahkan atmosfer.
- Limbah perkotaan dan tempat pembuangan akhir
- Industri tekstil dan pencucian pakaian sintetis
- Kegiatan perikanan dan proses degradasi sampah plastik
Distribusi mikroplastik di perairan Indonesia
Hasil kajian tim peneliti menunjukkan mikroplastik ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia, mulai dari sungai, waduk, danau, estuari, hingga laut lepas. Seluruh sampel air dan sedimen yang diteliti mengandung mikroplastik.
Meski begitu, sebaran penelitian masih timpang. Sebagian besar studi terpusat di Pulau Jawa dan Bali, sedangkan wilayah timur Indonesia minim data.
Proses oseanografi seperti arus laut, musim, suhu, salinitas, dan pola sirkulasi memengaruhi pergerakan dan tempat akumulasi mikroplastik. Wilayah tertutup seperti teluk dan estuari cenderung menjadi hotspot akumulasi.
Dampak terhadap organisme laut dan keamanan pangan
Mikroplastik masuk ke tubuh organisme laut melalui makanan dan filtrasi air. Partikel ini dapat menyebabkan penyumbatan saluran pencernaan dan memberi rasa kenyang palsu, sehingga memengaruhi kesehatan dan reproduksi organisme.
Selain gangguan fisik, mikroplastik dapat mengikat logam berat, bahan kimia toksik, dan mikroorganisme patogen yang berpotensi dilepaskan di dalam tubuh organisme, berimplikasi pada keamanan rantai makanan manusia.
Langkah penanganan dan rekomendasi
Prof. Reza menegaskan penanganan mikroplastik harus sistematis dan terintegrasi. Langkah yang diperlukan meliputi pengurangan penggunaan plastik, peningkatan pengelolaan sampah, penguatan penelitian, dan kolaborasi lintas sektor.
"Laut yang bersih bukan hanya penting bagi kehidupan saat ini, tetapi juga merupakan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang," tutup Prof. Reza.
Berita Terkait
Redea Institute-Taruna Nusantara Cimahi Perkuat Sinergi Pendidikan
Redea Institute dan Taruna Nusantara Cimahi menandatangani MoU untuk meningkatkan mutu akademik dan persiapa...
Redea Institute dan Taruna Nusantara Cimahi Perkuat Kerja Sama Pendidikan
Redea Institute dan Taruna Nusantara Cimahi resmi teken MoU untuk perkuat kualitas akademik, pelatihan guru,...
13 Finalis Speaking Contest 2026 Siap Adu Gagasan soal AI
Sebanyak 13 finalis dari siswa, mahasiswa, dan guru akan tampil pada Grand Finale Speaking Contest 2026, men...
Menteri Kenalkan Wolvesight: Aplikasi Keamanan Digital AI
Menteri Ekraf luncurkan Wolvesight, platform keamanan digital AI anak bangsa, sebagai bagian penguatan fonda...
Pola Cuaca Bergeser, Prakiraan Makin Sulit Akibat Pemanasan Global
Dwikorita: pola cuaca historis terganggu dan prakiraan makin sulit karena pemanasan global mempercepat siklu...
Esa Unggul dan ASU Luncurkan International College di Jakarta
Universitas Esa Unggul luncurkan International College bersama Arizona State University pada 4 Juni 2026, me...