Lokal

MCU Pekerja Bukan Sekadar Formalitas, Ini Saran Dokter Medis Okupasi

Bagikan:
Dokter menjelaskan pentingnya medical check-up bagi pekerja di Columbia Asia Hospital Medan

Medan — Pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) bagi pekerja seharusnya bukan sekadar memenuhi kewajiban perusahaan. Pada media gathering Columbia Asia Hospital Medan, Kamis (27/8), dokter spesialis kedokteran okupasi menekankan hasil MCU harus menjadi dasar pencegahan dan perbaikan kondisi kesehatan pekerja.

MCU sebagai rapor kesehatan pekerja

dr. Muhammad Rizqi Nasution, MKK, SpOk., menjelaskan hasil MCU perlu dibaca sebagai rapor kesehatan. Temuan laboratorium bukan akhir, melainkan titik awal untuk tindakan selanjutnya.

"Pemeriksaan kesehatan jangan hanya sekadar gugur laksana atau formalitas. Hasil pemeriksaan itu sebenarnya bisa menjadi potret atau rapor kesehatan pekerja,"

Rizqi mengimbau perusahaan dan pekerja menindaklanjuti hasil MCU melalui edukasi, konsultasi, dan langkah pencegahan sesuai risiko masing-masing individu.

Kelelahan: alarm yang jangan diabaikan

Rizqi juga menyoroti keluhan seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya stamina. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai alarm tubuh yang menandakan risiko keselamatan kerja meningkat.

"Mudah lelah itu alarm dari tubuh kita. Ketika seseorang bekerja dalam kondisi lelah dan tidak fokus, produktivitas menurun dan keselamatan bisa terancam,"

Menurut Rizqi, penyebab kelelahan bisa beragam: jam kerja berlebihan, kebiasaan lembur, dan kurang istirahat. Ia menegaskan pentingnya waktu pemulihan setelah bekerja.

Rizqi mengutip patokan waktu kerja yang sehat: maksimal 8 jam per hari, 40 jam per minggu, dan 170 jam per bulan. Jika kelelahan dibiarkan, risiko gangguan kesehatan kronis, termasuk penyakit jantung, dapat meningkat.

Pencegahan bahaya di tempat kerja

Dalam praktik kedokteran okupasi, pencegahan bahaya kerja meliputi beberapa langkah yang sistematis. Rizqi menjabarkan prinsip-prinsip yang dapat diterapkan perusahaan.

  • Eliminasi: menghilangkan sumber bahaya bila memungkinkan.
  • Rekayasa teknis: menyesuaikan atau memperbaiki peralatan kerja seperti meja dan kursi.
  • Pengendalian administratif: pengaturan jam kerja, waktu istirahat, dan break berkala.
  • Penggunaan alat pelindung diri (APD) sesuai jenis risiko pekerjaan.

Ia menekankan bahwa penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bukan sekadar biaya, melainkan investasi untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan perusahaan.

MCU berbasis risiko pekerjaan

Columbia Asia Hospital Medan menyediakan layanan kedokteran okupasi yang disesuaikan dengan jenis risiko pekerjaan. Layanan tersebut mencakup MCU berbasis risiko, penilaian lingkungan kerja, dan penilaian kesiapan kembali bekerja setelah kecelakaan atau penyakit berat.

"Setiap pekerjaan, baik formal maupun informal, sebenarnya bisa memanfaatkan layanan kedokteran okupasi. Karena setiap pekerjaan memiliki potensi risiko kesehatan yang berbeda,"

Sementara itu, CEO Columbia Asia Hospital Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., menyatakan layanan kesehatan kerja yang komprehensif bertujuan membangun tenaga kerja sehat dan produktif.

"Melalui layanan kesehatan kerja yang komprehensif, kami ingin menjadi mitra dunia usaha dalam membangun tenaga kerja yang sehat dan produktif,"

Columbia Asia Hospital Medan menawarkan tindak lanjut bagi pekerja dengan hasil pemeriksaan di luar batas normal, termasuk skrining risiko metabolik dan konsultasi spesialis kedokteran okupasi.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait