Ahli Ingatkan Cermat Membaca Label Makanan Kaleng
Ahli teknologi pangan Daisy Irawan mengingatkan masyarakat agar lebih cermat membaca label makanan kaleng sebelum rutin mengonsumsinya. Pernyataan itu disampaikan saat wawancara dengan stasiun radio pada Rabu, 27 Mei 2026. Menurutnya, perhatian pada kandungan gula, garam, lemak, dan natrium penting untuk mencegah risiko kesehatan jangka panjang.
Mengapa membaca label penting?
Daisy menjelaskan tujuan utama pengalengan adalah menjaga pangan tetap awet dan mencegah cemaran mikroba penyebab kerusakan serta penyakit. Jika proses pengalengan dijalankan sesuai standar, produk kaleng bisa aman tanpa tambahan pengawet berlebihan.
"Masyarakat perlu memahami informasi gizi pada kemasan sebelum mengonsumsi makanan kaleng secara rutin setiap harinya. Makanan kaleng tidak otomatis berbahaya selama dikonsumsi bijak dan memperhatikan kandungan gizinya secara menyeluruh,"
Manfaat dan risiko makanan kaleng
Produk seperti sarden kalengan memiliki nilai gizi karena duri ikan melunak setelah proses pengolahan. Daisy menyebut kandungan kalsium pada tulang dan duri bermanfaat bagi lansia yang jarang minum susu.
Namun, ia menekankan batasan frekuensi konsumsi untuk menghindari asupan natrium berlebih. Kadar sodium tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi, terutama jika dikombinasikan dengan makanan instan lain.
Tips memilih dan mengonsumsi makanan kaleng
- Periksa label gizi: lihat jumlah sodium, gula, dan lemak per porsi.
- Perhatikan kondisi kemasan: hindari kaleng penyok, bocor, atau berkarat.
- Bandingkan produk: pilih yang kadar garam dan gula lebih rendah.
- Konsumsi seimbang: padukan dengan makanan segar untuk gizi lebih lengkap.
Daisy menegaskan bahwa makanan segar tetap pilihan terbaik untuk gizi seimbang.
"Makanan segar tetap menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang setiap harinya. Namun, makanan kaleng dapat menjadi solusi praktis selama dikonsumsi sewajarnya dan tidak berlebihan,"
Konteks perdebatan dan pengawasan
Perbincangan soal makanan kaleng kembali ramai setelah dikaitkan dengan kategori ultra-processed food (UPF). Sebagian masyarakat menganggap produk kaleng bukan lagi "real food" meski pengolahannya diatur ketat oleh otoritas keamanan pangan.
Faktanya, produk kaleng tetap melewati pengawasan keamanan pangan sehingga risiko dapat dikendalikan. Para ahli menganjurkan masyarakat selalu memeriksa kondisi kemasan dan informasi gizi sebelum membeli dan mengonsumsi.
Pada akhirnya, keputusan bijak konsumen—membaca label, membatasi frekuensi, dan mengombinasikan dengan makanan segar—menjadi kunci memanfaatkan kepraktisan makanan kaleng tanpa mengorbankan kesehatan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Tarif Kewarganegaraan Baru Perkuat Kepastian Hukum
Pemerintah revisi tarif kewarganegaraan lewat PP 30/2026 efektif Agustus 2026; kebijakan juga menyederhanaka...
DVI Identifikasi Dua Korban Tenggelam KM Nurul Salsa
Tim DVI mengidentifikasi dua jenazah korban KM Nurul Salsa yang ditemukan di perairan Kepulauan Selayar dan...
Prabowo: Politik Luar Negeri Indonesia Bebas Aktif, Tanpa Musuh
Prabowo tegaskan politik luar negeri bebas aktif di Harlah PKB: Indonesia nonblok, hormati semua negara, dan...
Prabowo Sindir LSM: 'Yang Gaji Lo Siapa?'
Presiden Prabowo menuding LSM pro-asing dan mempertanyakan sumber pendanaan dalam pidato Harla PKB, 23 Juli...
Pemerintah Kaji Pelarangan Vape Jika Dipakai untuk Narkoba
Pemerintah hanya mengkaji pelarangan vape yang dipakai untuk narkoba; DPR mendukung, keputusan menunggu hasi...
Pameran Foto 'Belajar Tanpa Batas' Perkuat Literasi Sekolah Rakyat
Pameran foto "Belajar Tanpa Batas" (21–25 Juli 2026, TIM) memaparkan peran Sekolah Rakyat dan fotografi untu...