SKK Migas Proyeksi Lifting Minyak Naik Jadi 600-615 Ribu Bph
SKK Migas melaporkan realisasi lifting minyak saat ini sebesar 570.000 barel per hari dan memproyeksikan kenaikan menjadi 600.000-610.000 bph hingga akhir 2026. Proyeksi itu kemudian meningkat ke kisaran 610.000-615.000 bph pada 2027, didukung program peningkatan produksi dan permintaan percepatan perizinan dari DPR.
Proyeksi lifting 2026–2027
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan angka realisasi dan outlook tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Realisasi saat ini tercatat sekitar 570 ribu barel per hari.
"Untuk lifting minyak 2026, kami saat ini realisasinya 570 ribu barel per hari. Outlook sampai dengan akhir tahun sekitar 600 ribu sampai 610 ribu barel per hari,"
Djoko menambahkan bahwa pada 2027 target diangkat ke kisaran 610-615 ribu bph. Proyeksi ini ditopang berbagai program percepatan produksi migas.
Program peningkatan produksi
SKK Migas menjalankan beberapa strategi untuk menambah produksi. Salah satunya adalah program Filling the Gap yang ditargetkan menambah hingga 5.000 bph.
Selain itu, pengelolaan sumur masyarakat terus dioptimalkan melalui peran BUMD dan UMKM. Saat ini kontribusi dari skema tersebut mencapai sekitar 1.500 bph.
Dukungan DPR dan proyek baru
SKK Migas meminta dukungan DPR untuk percepatan perizinan dan penetapan beberapa proyek sebagai proyek strategis nasional. Dukungan legislatif dinilai penting agar target produksi nasional dapat tercapai tepat waktu.
"Untuk mencapai target 610, kami mohon dukungan, mohon bantuan Bapak-Ibu. Yang pertama adalah beberapa proyek kami sedang mengusulkan sebagai proyek strategis nasional,"
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menilai capaian produksi kuartal I 2026 cukup baik. Ia mencatat produksi migas mencapai sekitar 572 ribu barel setara minyak per hari, termasuk minyak bumi, kondensat, dan NGL.
"Apabila dibandingkan dengan target lifting minyak bumi pada APBN 2026 sebesar 610.000 barel per hari. Maka pencapaian produksi minyak bumi pada kuartal I tahun 2026 menggambarkan kinerja yang cukup baik dan optimis di tengah isu geopolitik,"
Proyek yang diharapkan menyumbang
Bambang menyebut beberapa proyek yang dijadwalkan berkontribusi pada peningkatan produksi mulai 2026 dan berlanjut ke 2027. Rinciannya antara lain:
- Peningkatan produksi kondensat PHE ONWJ
- Tambahan produksi dari JOB Pertamina Medco Tomori
- Sumur Sidingin dan Minas
- Pengembangan Pertamina EP di Jambi dan peningkatan produksi Energi Mega Persada
Dengan adanya proyek on-stream tersebut, optimisme peningkatan produksi sampai 2027 tetap terbuka lebar.
Permintaan DPR soal data dan proyeksi
Dalam rapat, Komisi XII meminta penjelasan SKK Migas terkait realisasi lifting 2026. DPR juga meminta proyeksi produksi dan rincian cost recovery untuk 2027 agar pengawasan dan perencanaan anggaran berjalan efektif.
Perkembangan realisasi dan pencapaian proyek yang tengah berjalan akan menjadi penentu utama apakah proyeksi 600-615 ribu bph dapat terealisasi sesuai target nasional.
Berita Terkait
MaiA: Platform AI Permudah Rencana Perjalanan Wisatawan
Kemenpar meluncurkan MaiA, platform AI untuk memudahkan penyusunan rencana perjalanan dan mempromosikan dest...
Pelemahan Rupiah Dongkrak Daya Saing Pariwisata Indonesia
Pelemahan rupiah membuat Indonesia lebih murah bagi wisatawan asing, mendorong kunjungan dari Asia meski tan...
Gede Narayana Ditunjuk Jadi Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat
Gede Narayana resmi ditunjuk sebagai Wakil Ketua KIP menggantikan Arya Sandhiyudha; penetapan melalui rapat...
Pemerintah Siapkan Sanksi Publik bagi Pelanggar Uji Tuntas HAM
KemenHAM siapkan sanksi, termasuk publikasi identitas, bagi perusahaan >2.000 pekerja yang tak lapor uji tun...
DPR: Diplomasi Presiden Kunci Hadapi Tantangan Geopolitik
DPR menilai diplomasi presiden penting hadapi gejolak geopolitik; masukan publik layak dipertimbangkan, tapi...
UNDP: Uji Tuntas HAM Kini Wajib bagi Perusahaan Global
UNDP: uji tuntas HAM kini mengikat secara hukum dan jadi tuntutan investor; perusahaan Indonesia harus terap...