Kualitas Jadi Kunci Perempuan Berdaya di Politik
SURABAYA — Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menegaskan bahwa kualitas dan kompetensi adalah syarat utama agar perempuan dapat memberi kontribusi substantif di politik. Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka kegiatan Penguatan Peran, Kapasitas dan Kompetensi Anggota Parlemen Perempuan Periode 2024–2029 pada Selasa (30/6/2026) di Surabaya. Menurut Untari, keterwakilan perempuan tak cukup sekadar memenuhi kuota tanpa kapasitas teknis dan kepemimpinan yang kuat.
Kualitas Lebih dari Kuota
Untari menekankan bahwa jumlah kursi perempuan di parlemen harus diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tanpa kemampuan memahami penyusunan kebijakan, penganggaran, dan fungsi pengawasan, kehadiran perempuan di ruang legislatif sulit memberi dampak nyata.
Ia mengingatkan agar legislator perempuan terus mengasah pengetahuan melalui pendidikan formal maupun pembelajaran nonformal selama menjabat.
"Kehadiran perempuan di parlemen harus mampu memberi warna melalui kapasitas dan kompetensinya. Kalau kita tidak memiliki itu, suara kita tidak akan didengar,"
Tantangan Ganda: Double Burden dan Hambatan Struktural
Menurut politikus PDI Perjuangan itu, perempuan politik menghadapi beban ganda. Mereka harus menjalankan peran publik sekaligus tanggung jawab di keluarga.
"Perempuan sesungguhnya menghadapi double burden. Di satu sisi harus menjalankan peran domestik, di sisi lain dituntut optimal di ruang publik,"
Selain beban domestik, Untari menyebut hambatan lain seperti budaya patriarki, ketimpangan pendanaan politik, dan kekerasan terhadap perempuan di arena politik. Untuk mengatasi itu, diperlukan ketangguhan mental, integritas, dan jejaring yang kuat.
Perlunya Penguatan Kapasitas dan Pengalaman Organisasi
Untari menyoroti pentingnya pengalaman organisasi dan kemampuan kepemimpinan bagi perempuan yang terjun ke politik. Menurutnya, bekal tersebut memungkinkan perempuan menyeimbangkan tugas publik dan domestik serta memperjuangkan kebijakan pro-rakyat.
"Upgrade keilmuan itu wajib. Jangan pernah berhenti belajar, terutama mengenai kebijakan publik dan manajemen publik karena itulah instrumen utama seorang legislator,"
Harapan dari Program Penguatan
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) bersama mitra ini diharapkan melahirkan legislator perempuan yang profesional. Untari berharap forum itu menghasilkan kebijakan publik yang lebih inklusif dan berpihak kepada masyarakat.
Dengan peningkatan kapasitas, ia meyakini kehadiran perempuan di parlemen bukan sekadar kuantitas, melainkan kekuatan untuk mendorong kebijakan yang lebih adil.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPRD Surabaya Awasi Renovasi RTLH di Tambak Asri
Tri Didik Adiono meninjau renovasi RTLH di Tambak Asri, memastikan bantuan tepat sasaran dan meningkatkan ku...
Tri Didik Tinjau RTLH di Tambak Asri, Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Tri Didik Adiono meninjau RTLH di Tambak Asri (30/6/2026) untuk memastikan renovasi rumah tepat sasaran dan...
Gresik Kirim Ekspor Rajungan ke AS, Sinergi Pemerintah dan Swasta
Bupati Gresik dan Wamen Transmigrasi melepas satu kontainer rajungan ke AS, hasil kolaborasi Kementrans, Pem...
Puan Minta Usut Tuntas Intimidasi terhadap dr. Eliza Princila di TTU
Puan Maharani minta polisi usut tuntas dugaan intimidasi terhadap dr. Eliza Princila di TTU dan jamin perlin...
Ribuan Warga Saksikan Pentas Jaranan di Blitar, PDI Perjuangan Tekankan Pelestarian Budaya
Ribuan warga menyaksikan pentas jaranan di Kademangan, Blitar (29/6/2026); PDI Perjuangan sebut langkah ini...
Kediri Kaji Penerapan Sekolah Lima Hari, Libatkan Masyarakat dan DPRD
Pemkab Kediri masih mengkaji sekolah lima hari, membuka ruang aspirasi masyarakat dan DPRD serta mempertimba...