Nasional

KLH Perketat Pengelolaan Limbah Program MBG untuk Cegah Pencemaran

Bagikan:
Dapur SPPG sedang beraktivitas dan ilustrasi instalasi pengolahan air limbah

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperketat pengelolaan air limbah pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan agar program strategis nasional berjalan berkelanjutan dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, kata KLH melalui pernyataan resmi pada Minggu, 14 Juni 2026.

Aturan dan standar yang mengikat

Penguatan regulasi mengikuti Peraturan Badan Gizi Nasional Nomor 1 Tahun 2026 yang mewajibkan setiap SPPG mengelola sisa pangan, sampah, dan air limbah selama operasional. Pemerintah juga menerbitkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Nomor 2760 Tahun 2026 yang mengatur baku mutu serta standar teknologi pengolahan air limbah domestik untuk SPPG.

Isi limbah dapur dan kebutuhan teknologi

Praktisi pengolahan air limbah dari IPAL Treatment Indonesia, Habibi, menjelaskan komposisi limbah cair dari kegiatan dapur SPPG. Limbah ini umumnya mengandung bahan organik, padatan tersuspensi, amonia, deterjen, minyak, dan lemak — semua memerlukan pengolahan sebelum dibuang.

“Berdasarkan Basic Engineering Design untuk kapasitas pengolahan 10 meter kubik per hari, kandungan pencemar limbah cair SPPG tergolong cukup tinggi. Sehingga membutuhkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai agar memenuhi baku mutu yang ditetapkan pemerintah,”

Habibi menekankan bahwa kapasitas dan teknologi IPAL harus disesuaikan dengan karakter limbah agar hasil olahan memenuhi baku mutu sebelum dibuang ke badan air.

Kebijakan KLH: teknis, regulasi, dan pendampingan

Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH/BPLH menegaskan setiap SPPG wajib memastikan air limbah yang dihasilkan telah diolah dan memenuhi standar sebelum dibuang.

“Program Makan Bergizi Gratis harus memberikan manfaat yang utuh bagi masyarakat. Karena itu, setiap SPPG wajib memastikan air limbah yang dihasilkan dikelola sesuai standar agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,”

KLH melanjutkan upaya melalui penguatan regulasi, pendampingan teknis, dan penerapan teknologi pengolahan. Tujuannya menjaga kualitas lingkungan sekaligus memastikan keberlanjutan Program MBG.

Dampak dan urgensi

Seiring bertambahnya jumlah SPPG di berbagai daerah, kebutuhan sistem pengolahan limbah yang memadai semakin mendesak. Pengolahan makanan, pencucian bahan baku, pembersihan peralatan, dan sanitasi menghasilkan limbah cair potensial mencemari sungai dan sumber air bila tidak diolah.

Pengelolaan limbah yang baik membuka dua manfaat utama: mencegah pencemaran lingkungan dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pelaksanaan Program MBG. Lingkungan yang bersih juga dinilai mendukung terciptanya generasi yang lebih sehat dan produktif.

Prospek ke depan

Dengan penerapan baku mutu dan standar IPAL yang seragam, KLH/BPLH berharap pemenuhan gizi masyarakat berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan hidup. Implementasi teknis dan dukungan anggaran di tingkat daerah akan menjadi kunci agar SPPG dapat mengoperasikan IPAL yang efektif dan berkelanjutan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait