Pemkab Langkat Klarifikasi Pemberian Uis Karo pada Pisah Sambut Kapolres
Stabat, 17 Juli — Pemerintah Kabupaten Langkat mengeluarkan klarifikasi resmi terkait polemik pemberian uis Karo dalam prosesi Pisah Sambut Kapolres Langkat. Klarifikasi disampaikan oleh Kepala Bagian Protokol Setdakab Langkat, Winanda Akbar, yang menyatakan kejadian itu terjadi karena miskomunikasi teknis dan bukan bermaksud menggantikan identitas budaya Melayu daerah.
Klarifikasi resmi dan inti pernyataan
Pemkab menegaskan pemberian uis hanya dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada pejabat yang bertugas. Pemerintah menyatakan tidak ada niat untuk mengurangi penghormatan terhadap adat dan budaya Melayu yang menjadi jati diri Kabupaten Langkat.
Winanda, yang bertugas sebagai penghubung protokol antara Pemkab dan instansi lain, menjelaskan bahwa penggunaan atribut tersebut merupakan kekhilafan pada aspek teknis pelaksanaan protokol.
“Hal ini murni miss komunikasi, tidak ada unsur kesengajaan. Atas nama pribadi maupun Pemerintah Kabupaten Langkat, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang merasa dirugikan maupun kurang berkenan atas kejadian ini,”
Penyebab, evaluasi, dan janji tindak lanjut
Pemkab menyebutkan masalah terjadi pada koordinasi teknis pelaksanaan acara. Sebagai tindak lanjut, Bagian Protokol Setdakab akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penggunaan simbol budaya dalam kegiatan resmi pemerintahan.
Winanda menegaskan komitmen agar setiap prosesi resmi ke depan memperhatikan aspek budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal Kabupaten Langkat agar kejadian serupa tidak terulang.
Respons Dewan Syarikat Melayu Langkat (DSML)
Ketua DSML, Sukhyar Mulyamin, menyatakan pihaknya meyakini tidak ada unsur kesengajaan dari Pemkab. Namun, Sukhyar meminta agar peristiwa ini menjadi pelajaran untuk pelaksanaan kegiatan resmi yang lebih selektif.
“Kami memahami bahwa tidak ada unsur kesengajaan dalam peristiwa ini, kedepannya kami berharap Pemerintah Kabupaten Langkat lebih selektif dan berhati-hati dalam menggunakan simbol-simbol daerah pada acara resmi,”
Ia menambahkan bahwa penggunaan simbol budaya yang keliru berpotensi memicu konflik yang tidak perlu, terutama dalam situasi sensitif.
Konteks aturan daerah dan harapan ke depan
Sukhyar mengingatkan agar Pemkab berpedoman pada Peraturan Daerah Kabupaten Langkat Nomor 4 Tahun 2024 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah. Perda tersebut dimaksudkan menjadi pedoman dalam penggunaan simbol dan atribut budaya pada kegiatan resmi pemerintah.
Dengan mengacu pada perda, diharapkan setiap kegiatan resmi mencerminkan jati diri Kabupaten Langkat dan menghormati keberagaman masyarakat yang hidup berdampingan.
Kasus ini menyorot pentingnya koordinasi protokol dan pemahaman tata kelola simbol budaya dalam acara resmi. Evaluasi internal dan pedoman yang jelas diharapkan memperkecil risiko kesalahan teknis serupa di masa mendatang.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Minyak Nilam Masuk SRG, Aceh Percepat Hilirisasi dan Stabilkan Harga
Kepmendag Nomor 2055/2026 menetapkan minyak nilam masuk SRG; Aceh percepat hilirisasi dan siapkan peluncuran...
Maulid Akbar Kuta Malaka: Santuni 70 Yatim, 2.000 Jamaah
Maulid Akbar di Masjid Samahani, Kuta Malaka, 8 November, memberi santunan kepada 70 anak yatim dan diperkir...
Wakil Ketua DPRD Kritik Camat-Lurah Absen di Sosper Medan
Wakil Ketua DPRD Medan Zulkarnaen kecewa Camat Medan Timur dan Lurah Pulo Brayan Bengkel absen saat Sosper (...
Polres Sibolga Catat 502 Pelanggaran dalam Operasi Patuh Toba 2026
Polres Sibolga menertibkan 502 pelanggar dalam Operasi Patuh Toba 2026, dengan 500 teguran dan dua tilang ma...
Warga Tolak Penggabungan SD Negeri 101832 di Pancurbatu
Komite dan orang tua SDN 101832 Pancurbatu menolak penggabungan ke SDN 106820; minta keputusan Dinas Pendidi...
Rico Waas Tampung Aspirasi Warga Tegal Sari III: Drainase & Keamanan
Wali Kota Medan Rico Waas memimpin gotong royong dan Sapa Warga di Tegal Sari III untuk menindaklanjuti kelu...