Keracunan MBG di Karo, Pengamat: Perlu Perbaikan Tata Kelola
KABUPATEN KARO, Sumatera Utara — Ratusan siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo mengalami keracunan makanan hingga beberapa siswa dirawat pada awal September. Kasus ini memicu sorotan atas koordinasi antarlembaga dan pengawasan keamanan pangan dalam program tersebut.
Peristiwa dan dampak
Kejadian bermula ketika sejumlah siswa yang sehat saat berangkat sekolah kemudian mengalami gejala serius, termasuk kejang-kejang, sehingga butuh perawatan. Korban salah satunya berinisial FP yang berusia 16 tahun. Tragedi ini mengakibatkan penutupan permanen salah satu dapur penyedia makanan oleh Badan Gizi Nasional dan pemberhentian penanggung jawab.
Masalah koordinasi dan kewenangan
Pengamat kebijakan publik Shohibul Anshor Siregar menilai masalah bukan hanya teknis pengolahan makanan, tetapi juga terkait kebuntuan birokrasi antara otoritas daerah dan pelaksana program pusat. Ia menegaskan pemerintah daerah tetap memiliki tanggung jawab dalam aspek kesehatan masyarakat.
"Jangan sampai karena ini program pusat kemudian pemerintah daerah merasa tidak memiliki kewenangan. Pemerintah daerah tetap mempunyai tanggung jawab melindungi masyarakatnya," kata Shohibul.
Shohibul menyoroti posisi dapur yang berhubungan dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan memperingatkan bahwa perbedaan struktur kelembagaan tidak boleh menjadi alasan menunda tindakan saat keselamatan terancam.
Permintaan transparansi dan bukti ilmiah
Pengamat mendesak Dinas Kesehatan Sumatera Utara dan pemerintah daerah membuka hasil pemeriksaan laboratorium terhadap makanan yang diduga menjadi sumber keracunan. Menurutnya, masyarakat berhak tahu apakah penyebabnya adalah kontaminasi bakteri, toksin seperti histamin akibat buruknya rantai dingin, atau faktor lain.
"Jangan masyarakat dibiarkan menerka-nerka. Hasil laboratorium harus disampaikan secara transparan. Ini menyangkut kesehatan anak-anak dan kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah," ujarnya.
Penanganan korban dan pencegahan jangka panjang
Shohibul menekankan negara harus menjamin perawatan lanjutan bagi anak yang mengalami dampak kesehatan serius, termasuk pemeriksaan neurologi atau layanan psikologis jika diperlukan. Ia juga meminta evaluasi menyeluruh pada sistem, tidak hanya memberi sanksi pada individu.
Menurut Shohibul, pengawasan harus dilakukan sejak pengadaan bahan baku, penyimpanan, pengolahan hingga distribusi. Jika fasilitas dapur tidak memenuhi persyaratan higiene, pemerintah daerah harus berani menghentikan operasi demi keselamatan.
Rekomendasi dan penutup
Kasus ini menjadi momentum memperbaiki tata kelola keamanan pangan pada program MBG. Shohibul mengingatkan bahwa ketika program dipuji saat berhasil, negara juga harus hadir penuh saat terjadi kegagalan, dengan prioritas utama keselamatan anak-anak.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pelaku Perampokan Dokter di Sidikalang Ditangkap Polisi
Pelaku perampokan terhadap dr Nico di Sidikalang ditangkap Polres Dairi; tersangka ditahan dan dijerat UU KU...
Keracunan MBG di Karo: Pengamat Minta Usut Hingga Unsur Kelalaian
Pengamat hukum minta penyelidikan tuntas soal dugaan keracunan massal siswa akibat makanan MBG di Karo; temu...
Medan Perkuat Opsen PKB dan Luncurkan E-Loket untuk Percepatan Digital
Bapenda Medan sosialisasi Opsen PKB dan gelar High Level Meeting TP2DD untuk tingkatkan kepatuhan PKB serta...
Bupati Minta Dana Besar untuk Rehabilitasi Infrastruktur Tapanuli Utara
Bupati Tapanuli Utara mendesak Kementerian PU menambah anggaran untuk mempercepat rehabilitasi jalan kabupat...
Bupati Batubara Serahkan Bantuan untuk 3 Keluarga Korban Kebakaran
Bupati Batubara menyerahkan bantuan bagi tiga keluarga korban kebakaran PT Evyap; setiap keluarga menerima R...
SMAN 1 Binjai Terapkan SPP Beragam, 278 Siswa Digratiskan
SMAN 1 Binjai menerapkan SPP beragam sesuai kemampuan orang tua; 278 siswa digratiskan dan pengutipan SPP di...