Ekonomi

Rupiah Menguat Signifikan, Data Ekonomi Domestik Jadi Pengaruh Utama

Bagikan:
Ilustrasi mata uang rupiah terhadap dolar AS dan grafik penguatan nilai tukar

Nilai tukar rupiah menguat tajam terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 9 September 2026, ditopang oleh data ekonomi domestik yang lebih baik dari perkiraan. Rupiah ditutup menguat 0,69 persen atau 121 poin ke Rp17.511 per dolar AS, sementara pelaku pasar memperkirakan apresiasi berlanjut besok.

Perkiraan arah rupiah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan penguatan masih berlanjut pada Kamis. Ia memproyeksikan ada kemungkinan rupiah menguat tambahan sekitar 50 poin menjadi sekitar Rp17.480 per dolar AS.

"Ada kemungkinan menguat 50 poin, sehingga rupiah menjadi Rp17.480 per dolar AS,"

Data ekonomi yang menopang

Ibrahim menyebutkan penguatan hari ini didorong oleh beberapa indikator ekonomi dalam negeri yang melampaui ekspektasi. Salah satunya adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang naik menjadi 118,5 pada Agustus, dari 116,8 pada Juli.

"Di luar ekspektasi, IKK bulan Agustus 118,5 lebih tinggi dibandingkan di bulan Juli sebesar 116,8,"

Menurutnya, kenaikan itu merupakan level tertinggi sejak Januari 2026 dan meningkatkan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III sebesar 5,3 persen berpotensi tercapai.

Selain itu, penjualan ritel mobil pada Agustus melonjak 7,7 persen menjadi 83.442 unit. Ibrahim menilai Agustus menjadi bulan yang sangat menguntungkan bagi pelaku usaha otomotif karena penjualan meningkat signifikan.

Gejolak global dan harga minyak

Penguatan rupiah berlangsung meski konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur meningkat, yang biasanya mendorong tekanan pada mata uang negara berkembang melalui lonjakan harga energi. Perang di beberapa wilayah memicu kenaikan harga minyak global, dengan harga minyak Brent melonjak melampaui 100 USD per barel.

"Gejolak harga minyak tidak menyebabkan rupiah tertekan seperti biasanya. Kenapa? Karena data ekonomi dalam negeri cukup bagus dan pasar optimis, arus modal juga kembali masuk,"

Implikasi dan prospek

Kombinasi data domestik yang kuat dan aliran modal masuk menjadi katalis utama bagi rupiah dalam jangka pendek. Namun, dinamika geopolitik dan fluktuasi harga minyak tetap menjadi risiko yang perlu dipantau pelaku pasar.

Pasar kemungkinan akan terus mengawasi rilis data berikutnya dan pergerakan arus modal global untuk menilai keberlanjutan penguatan rupiah.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait