Ekonomi

Rupiah Melesat ke Rp17.554 pada Pembukaan, Didorong Dolar Lemah

Bagikan:
Grafik nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat pembukaan pasar

Nilai tukar rupiah melejit ke Rp17.554 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu 9 September 2026. Penguatan ini tercatat sebesar 0,44 persen atau 78 poin dibandingkan penutupan sebelumnya, dipengaruhi pelemahan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia, menurut analisis pasar.

Pergerakan pasar pagi ini

Pada penutupan Selasa, rupiah ditutup di level Rp17.632 per dolar AS dengan kenaikan tipis 0,05 persen atau 8 poin. Namun pada pembukaan hari ini mata uang domestik bergerak lebih kuat, memotong selisih ke level Rp17.554.

Faktor pendorong penguatan

Beberapa faktor yang mendorong penguatan rupiah pada pembukaan antara lain:

  • Melemahnya indeks dolar AS yang saat ini berada di sekitar level 98, sehingga permintaan terhadap dolar menurun.
  • Kenaikan harga minyak mentah dunia yang bergerak di kisaran USD94 hingga USD98 per barel, yang memberi sentimen positif pada mata uang pasar negara berkembang.

Pandangan analis

Herditya Wicaksana, Head of Research Retail MNC Sekuritas, menilai pergerakan rupiah saat ini mengikuti skenario terbaik bagi mata uang domestik. Ia memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat lebih jauh dalam jangka pendek.

Pergerakan nilai tukar rupiah nampaknya berjalan pada 'best case skenario'

Herditya memproyeksikan rupiah dapat menguji area Rp17.476 hingga Rp17.519 per dolar AS jika sentimen eksternal tetap mendukung.

Data AS dan prospek kebijakan the Fed

Pelaku pasar saat ini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat, yaitu PPI dan CPI. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi langkah kebijakan Federal Reserve the Fed dalam beberapa pekan ke depan.

Jika laju inflasi tetap tinggi, pasar memperkirakan the Fed berpeluang menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Sebaliknya, bila inflasi menunjukkan penurunan menuju target, the Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga saat ini.

Implikasi dan prospek

Penguatan awal rupiah memberikan sentimen positif bagi pasar valas dan investor domestik. Namun prospek jangka pendek masih bergantung pada data ekonomi AS dan dinamika harga minyak. Pelaku pasar dianjurkan memantau rilis data inflasi AS dan respons pasar global untuk melihat kelanjutan tren rupiah.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait